Pentingnya nutrisi termasuk vitamin dan mineral untuk anak berdampak pada berbagai aspek kesehatan dan salah satunya adalah daya tahan tubuh. Artikel ini akan khusus membahas mineral yang seringkali asupannya tidak cukup terpenuhi, yaitu zat besi. Apa saja yang perlu diketahui mengenai mineral satu ini?

Mengapa zat besi penting untuk anak?

 

Menurut Mayo Clinic, zat besi membantu menyalurkan oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh dan membantu otot menyimpan serta menggunakannya. Ketika asupan zat besi kurang memadai, si Kecil dapat mengalami kondisi yang biasa dikenal dengan iron deficiency (kekurangan zat besi).

Di samping itu, zat besi juga merupakan mineral esensial untuk mendukung perkembangan sistem imun yang normal. Dilansir dari penelitian tahun 2011 yang membahas tentang asupan zat besi dan hubungannya dengan imunitas, kekurangan dan kelebihan zat besi sama-sama dapat mempengaruhi fungsi dari sistem imun.

Dengan kata lain, asupan zat besi perlu diberikan pada si Kecil dalam batas yang aman. Entah itu vitamin atau mineral yang diperlukan untuk mendukung daya tahan tubuh, memiliki batasan anjurannya.

Sebagai panduan, berikut rekomendasi jumlah asupan zat besi harian untuk anak berdasarkan usia:

  • 7-12 bulan: 11 mg

  • 1-3 tahun: 7 mg

  • 4-8 tahun: 10 mg

  • 9-13 tahun: 8 mg

Gangguan kesehatan yang disebabkan kekurangan zat besi

 

Berdasarkan hubungannya dengan sistem imun atau daya tahan tubuh, zat besi dibutuhkan untuk mencegah sekaligus melindungi anak dari berbagai serangan penyakit. Mineral ini juga bekerja secara berdampingan bersama vitamin seperti vitamin C untuk memaksimalkan daya tahan tubuh.

Ketika asupan zat besi mencukupi, risiko penyakit atau kondisi kesehatan berikut ini dapat menurun.

Anemia defisiensi besi

 

Risiko anemia defisiensi besi dimulai sejak si Kecil berada dalam kandungan. Ibu yang mengalami anemia saat masa kehamilan akan meningkatkan risiko pada bayi setelah dilahirkan.

Zat besi dibutuhkan untuk memproduksi sel darah merah. Di usia dini, si Kecil butuh mengalami pertumbuhan pesat, sehingga asupan nutrisi, vitamin, dan mineral pun bertambah termasuk kebutuhan sel darah merah.

Oleh karena itu kondisi anemia defisiensi besi cukup umum ditemukan pada anak yang kurang mengonsumsi sumber makanan dengan kandungan zat besi yang memadai.

Perkembangan kognitif dan fisik

 

Menurut WHO, dampak lain dari kurangnnya asupan zat besi adalah terganggunya tumbuh kembang si Kecil usia sekolah pada kemampuan kognitif dan fisik.

Kemampuan kognitif sendiri adalah kemampuan anak dalam memecahkan masalah, merencanakan sesuatu, atau secara sederhana yang berhubungan dengan mentalnya.

Kondisi ini dapat diatasi dengan meningkatkan jumlah asupan vitamin dan mineral seperti zat besi dan dapat dilihat dari performanya di sekolah.

Bersama vitamin C dapat mencegah infeksi karena daya tahan tubuh terjaga

 

Berdasarkan jurnal yang diterbitkan oleh The Journal of International Research, vitamin C merupakan salah satu mineral penting untuk mendukung daya tahan tubuh, perkembangan tulang, jaringan, serta membantu meningkatkan penyerapan zat besi.

Perlukah si Kecil mendapat suplementasi zat besi?

 

Berbagai bentuk suplementasi dapat Ibu pertimbangkan misalnya yang berasal dari susu pertumbuhan. Anak yang memiliki faktor risiko defisiensi besi bisa terbantu asupannya dari suplemen tersebut.

Berikut beberapa faktor risiko yang dimaksud:

  • Bayi atau anak yang tidak mendapat cukup asupan zat besi dari makanan

  • Bayi atau anak yang kelebihan berat badan atau obesitas

  • Bayi atau anak yang mengidap kondisi kesehatan tertentu, seperti infeksi kronis

Peran zat besi dalam tubuh anak tidak boleh disepelekan. Selain dengan meningkatkan sumber makanan yang kaya akan zat besi, Ibu dapat menambah asupan mineral satu ini melalui susu.

Selain zat besi, susu pertumbuhan biasanya sudah diformulasikan secara khusus agar mengandung nutrisi, vitamin, dan mineral lain yang rentan atau jarang dapat dipenuhi. Dengan asupan mineral dan vitamin yang cukup, si Kecil mendapat perlindungan untuk jangka panjang karena daya tahan tubuhnya akan meningkat.

 

Referensi:

- Mayo Clinic. (2019). Is your child getting enough iron? Retrieved September 29, 2020, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/in-depth/iron-deficiency/art-20045634

- Cherayil, B. J. (2010). Iron and Immunity: Immunological Consequences of Iron Deficiency and Overload. Archivum Immunologiae et Therapiae Experimentalis, 58(6), 407–415. https://doi.org/10.1007/s00005-010-0095-9

- WHO. (n.d.). WHO | Daily iron supplementation in infants and children. Retrieved September 29, 2020, from https://www.who.int/nutrition/publications/micronutrients/guidelines/daily_iron_supp_childrens/en/

- Maggini, S., Wenzlaff, S., & Hornig, D. (2010). Essential Role of Vitamin C and Zinc in Child Immunity and Health. Journal of International Medical Research, 38(2), 386–414. https://doi.org/10.1177/147323001003800203

- ScienceDirect Topics. (2015). Cognitive Ability - an overview. Retrieved September 29, 2020, from https://www.sciencedirect.com/topics/psychology/cognitive-ability

- Hassan, T. H., Badr, M. A., Karam, N. A., Zkaria, M., El Saadany, H. F., Abdel Rahman, D. M., … Selim, A. M. (2016). Impact of iron deficiency anemia on the function of the immune system in children. Medicine, 95(47), e5395. https://doi.org/10.1097/md.0000000000005395

- Iron needs of babies and children. (2007). Paediatrics & Child Health, 12(4), 333–334. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2528681/