Kemampuan bayi untuk makan dan mencerna makanan dengan baik sangatlah penting untuk tumbuh kembangnya. Sayangnya, tidak sedikit juga orang tua yang mengeluhkan soal gangguan pencernaan pada bayi ketika berkonsultasi dengan dokter. Ayo Bu, cari tahu masalah pencernaan yang dapat dialami oleh si Kecil serta langkah penanganannya.

Gangguan pencernaan yang dapat terjadi pada bayi

 

Masalah-masalah di bawah ini bisa berupa kondisi jangka pendek atau mengindikasikan adanya gangguan pada pencernaan si Kecil.

Muntah

 

Terkadang bayi suka memuntahkan susu yang diminumnya. Beberapa Ibu mengenali kondisi ini sebagai ‘gumoh’. Gumoh terjadi karena otot (sfingter) yang berada di antara lambung dan kerongkongan si Kecil masih dalam masa pertumbuhan. Alhasil, bayi belum kuat menahan susu yang telah diminum agar tidak kembali naik ke kerongkongan dari lambung.

Akan tetapi, Ibu perlu waspada jika bayi muntah dalam jumlah yang banyak setelah menyusui atau memaksakan diri untuk muntah. Ada kemungkinan hal-hal itu pertanda adanya masalah. Contoh, intoleransi terhadap kandungan susu atau minum susu terlalu banyak (overfeeding). Sering muntah juga bisa mengisyaratkan kondisi fisik yang mengganggu pencernaan.

Oleh karena itu, harap konsultasi dengan dokter jika:

  • Bayi sering muntah

  • Terdapat garis hijau atau merah darah pada muntah

  • Bayi nampak lesu setelah muntah

Refluks gastroesofagus

 

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), refluks gastroesofagus (RGE) adalah kondisi naiknya isi lambung ke kerongkongan dan dimuntahkan oleh mulut. RGE merupakan hal yang wajar jika usia si Kecil masih di bawah 1 tahun.

Namun, bayi perlu diperiksa jika gejala muntah karena RGE dibarengi dengan tanda bayi tidak mau makan atau berat badannya tidak naik. Pemeriksaan berguna untuk menilai apakah RGE merupakan gangguan pencernaan pada bayi yang perlu ditindaklanjuti lebih jauh.

Secara garis besar, RGE memiliki gejala mirip gumoh, yakni:

  • Bayi memuntahkan semua atau sebagian besar isi perutnya setelah menyusu

  • Tersedak ketika menyusu

Apabila gejala RGE tidak dibarengi dengan hal-hal yang mengkhawatirkan, Ibu dapat mengurangi gejalanya dengan:

  • Memastikan pemasangan popok bayi tidak terlalu kencang

  • Memberi porsi makan sedikit, tetapi lebih sering

  • Ketika menyusui, bayi dalam posisi setengah duduk dan menyusu dengan perlahan

  • Membuat si Kecil sendawa setelah selesai menyusu

  • Usahakan bayi duduk atau berdiri selama 30 menit setelah makan atau minum susu

Kolik

 

Mengutip dari Stanford Children's Health, kolik merupakan istilah untuk bayi yang kerap menangis berlebihan atau berkepanjangan. Tangisan ini sangat kencang dan berlangsung selama beberapa jam setiap harinya. Bayi umumnya mengalami kolik di empat bulan awal kehidupannya.

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti apakah kolik disebabkan oleh gangguan pencernaan pada bayi atau kondisi lain. Namun, beberapa alasan bayi mengalami kolik adalah:

  • Adaptasi dengan lingkungan

  • Sensitif terhadap gas

  • Alergi terhadap zat di makanannya

Kolik dapat membuat orang tua merasa stres. Ketika si Kecil nangis berkepanjangan dan sangat kencang, orangtua dapat mencoba:

  • Memberikan dot

  • Membawa si Kecil jalan-jalan

  • Memutar lagu atau nada yang menenangkan

  • Menggosok perlahan perut bayi atau punggungnya

Diare

 

Salah satu gejala utama diare adalah si Kecil buang air besar lebih sering daripada biasanya. Feses bayi juga bertekstur lembut dan lebih banyak airnya. Gangguan pencernaan pada bayi ini sebaiknya tidak diremehkan, Bu.

Diare dapat menyebabkan dehidrasi jika tidak ditangani dengan baik, sehingga bisa berbahaya jika terjadi pada bayi. Ketika bayi terserang diare, Ibu dapat memberikan hal-hal berikut untuk menjaga cairan tubuhnya:

  • Memberikan cairan rehidrasi oral atau oralit kemasan

  • Air putih

  • Kuah sup

Jika bayi muntah ketika diare, berikan cairan di atas sedikit demi sedikit. Yang tak kalah penting, Ibu harus tetap memberikan bayi susu atau makanan walaupun bayi sedang diare.

Segera bawa si Kecil ke dokter jika bayi menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, ada darah di fesesnya, atau demam tinggi.

Konstipasi

 

Sembelit atau konstipasi merupakan gangguan pencernaan yang ditandai dengan berkurangnya frekuensi BAB. Selain itu, feses juga lebih banyak, bertekstur lebih keras, dan dapat menyebabkan luka di dubur bayi.

Konstipasi jarang sekali terjadi pada bayi. Namun, perubahan pola makan, seperti mengenalkan MPASI pada bayi dapat memicu konstipasi. Apabila bayi menunjukkan tanda-tanda sembelit, Ibu dapat memberikan anak jus prune atau pir yang dicampur air, memberi buah plum atau persik, dan air putih.

Gangguan pencernaan memang belum tentu pertanda masalah kesehatan yang serius. Akan tetapi, Ibu harus waspada dan konsultasi dengan dokter jika gejala-gejala tak kunjung reda atau mengganggu tumbuh kembang anak, seperti berat badan tidak naik.

Ayo jadi bagian dari Golden Start Club by Enfa A+ dan dapatkan berbagai informasi penting seputar tumbuh kembang anak. Segera daftar dan dapatkan informasi selengkapnya melalui tautan ini

Referensi: 

- Colic - Diagnosis and treatment - Mayo Clinic. (2020, February 29). Mayo Clinic - Mayo Clinic. Retrieved July 30, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/colic/diagnosis-treatment/drc-20371081

- FAQ: Introducing your baby to solid foods. (n.d.). UCSF Benioff Children's Hospital. Retrieved July 30, 2020, from https://www.ucsfbenioffchildrens.org/education/feeding_your_baby_solid_foods/#10

- Gangguan Pencernaan pada Bayi (2). (n.d.). IDAI. Retrieved July 30, 2020, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/gangguan-pencernaan-pada-bayi-2

- Gangguan Pencernaan pada Bayi (I). (n.d.). IDAI. Retrieved July 30, 2020, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/gangguan-pencernaan-pada-bayi-i

- Gastrointestinal Problems. (n.d.). Stanford Children's Health - Lucile Packard Children's Hospital Stanford. Retrieved July 30, 2020, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=gastrointestinal-problems-90-P02216