Setiap orangtua memiliki pola asuh yang berbeda-beda. Akan tetapi, para peneliti, terutama Baumrind, Maccoby, dan Martin, memiliki teori terkait pola asuh yang umum dipraktikkan oleh orangtua. Ayo, simak empat cara mengasuh anak menurut mereka dan pengaruhnya terhadap karakter si Kecil.

Cara mengasuh dan pengaruhnya terhadap karakter anak

 

Ada empat pola asuh utama orangtua terhadap anak-anaknya. Empat pola asuh ini telah melalui penelitian yang sangat lama dan memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap si Kecil.

Pola asuh otoritatif (authoritative)

 

Pola asuh otoritatif merupakan cara mengasuh yang mendidik anak dengan tanggap dan suportif, tetapi tetap memiliki batasan tegas yang tak boleh dilanggar. Pola asuh ini cenderung menjaga perilaku anak dengan menjelaskan aturan yang ada, terbuka dengan diskusi, dan mau mendengar pemikiran logis anak. Meskipun ingin mendengar, bukan berarti setiap pemikiran anak akan diterima, Bu.

Berdasarkan American Psychological Association (APA), pengaruh pola asuh ini mampu membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang:

  • Ramah

  • Bersemangat

  • Ceria

  • Mandiri dan mampu mengendalikan diri

  • Rasa ingin tahu tinggi

  • Mudah bekerja sama

Contoh penerapan pola asuh ini dapat berupa ketika anak sedang tidak ingin melakukan sesuatu yang memang tidak disukainya. Orangtua dengan pola asuh ini dapat memberi penjelasan dengan menyatakan bahwa orangtua mengerti perasaan melakukan sesuatu hal yang tidak diinginkan.

Akan tetapi, perasaan ini membuat orangtua tetap ingin anak melakukan hal tersebut karena penting bagi manusia untuk belajar melakukan hal-hal yang sulit atau tidak diinginkan di waktu tertentu.

Cara mengasuh anak yang otoriter (authoritarian)

 

Harap dicatat bahwa pola asuh anak otoritatif berbeda dengan otoriter. Kajian Parenting Styles and Parent–Adolescent Relationships menyatakan pola asuh otoriter memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Kurang responsif

  • Memiliki tuntutan tinggi terhadap anak

  • Tegas dan dapat menggunakan hukuman jika anak melakukan kesalahan

Pengaruhnya terhadap karakter anak dapat berupa:

  • Anak yang patuh

  • Sopan

  • Disiplin

  • Kurang percaya diri, seperti tidak yakin dengan pemikirannya sendiri

  • Terkekang

  • Kesulitan atau tidak berani mengutarakan pendapat

Contoh umum dari cara mengasuh anak ini adalah ketika anak ingin pergi bermain dengan temannya, tetapi orangtua melarang karena menganggap temannya dapat membawa pengaruh yang tidak baik bagi anak.

Anak berkata kepada orangtuanya bahwa mereka terlalu mengekang. Orangtua dengan pola asuh ini dapat merespons ucapan anak dengan menghukum karena alasan melawan dan mempertanyakan keputusan orangtua.

Pola asuh permisif (permissive, indulgent)

 

Orangtua yang cenderung mengasuh anak dengan cara permisif umumnya menunjukkan perilaku yang:

  • Hangat dan baik terhadap anak

  • Santai

  • Tidak tegas

  • Tidak ada atau hanya sedikit tuntutan

Pola asuh ini dapat membuat anak menjadi:

  • Berperilaku sesuai keinginan anak

  • Impulsif

  • Pemberontak

  • Kurang mandiri dan pengendalian diri yang buruk

  • Tak memiliki tujuan

Bentuk pola asuh ini adalah ketika anak meminta orangtua membelikan kue ketika tengah mengunjungi pusat perbelanjaan. Walaupun anak sudah menikmati camilan sebelumnya, orangtua tetap menuruti permintaan anak.

Cara mengasuh anak yang mengabaikan, cuek (neglectful, hands-off, uninvolved)

 

Pola asuh ini ditandai dengan keterlibatan yang sangat sedikit dari orangtua di kehidupan anak. Orangtua juga cenderung kurang responsif dan jarang memiliki waktu untuk anak. Pengaruh dari cara mengasuh ini pada anak adalah:

Setelah mengenal empat cara mengasuh anak di atas, lantas, pola asuh mana yang direkomendasikan bagi orangtua?

Berdasarkan pembahasan dari Parenting Styles: A Closer Look at a Well-Known Concept pola asuh otoratif menghasilkan banyak perkembangan yang positif dan juga negatif terhadap anak. Pada pola asuh otoriter, anak-anak usia 8-10 tahun lebih cenderung menunjukkan perilaku meluapkan kemarahan pada sekitar dan memendam masalah seiring pertumbuhannya.

Sementara itu, pola asuh yang cenderung cuek terhadap anak dan permisif juga dianggap kurang baik bagi pertumbuhan anak. Alasannya karena anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak mandiri dan pengendalian diri yang kurang baik.

Singkat kata, mengasuh anak bukanlah hal yang mudah. Menjadi orangtua merupakan proses yang selalu berkembang seiring waktu, layaknya tumbuh kembang si Kecil. Oleh sebab itu, orangtua harus memberi ruang untuk belajar kapan harus tegas dan menunjukkan rasa kasih sayang di waktu yang tepat.

 

Referensi:

- Bi, X., Yang, Y., Li, H., Wang, M., Zhang, W., & Deater-Deckard, K. (2018). Parenting styles and parent–adolescent relationships: The mediating roles of behavioral autonomy and parental authority. Frontiers in Psychology, 9. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.02187

- Kuppens, S., & Ceulemans, E. (2018). Parenting styles: A closer look at a well-known concept. Journal of Child and Family Studies, 28(1), 168-181. https://doi.org/10.1007/s10826-018-1242-x

- Lloyd, C. (2016, July 1). What's your parenting style? Parenting. Retrieved September 30, 2020, from https://www.greatschools.org/gk/articles/types-of-parenting-styles/

- Parenting styles. (n.d.). https://www.apa.org. Retrieved September 30, 2020, from https://www.apa.org/act/resources/fact-sheets/parenting-styles

- Sudiantha, D. (2014). HUBUNGAN MODEL PENGASUHAN ORANG TUA DENGAN POLA PERILAKU SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SHALAHUDIN MALANG (Studi pada siswa Sekolah Menengah Pertama Shalahudin Malang). Jurnal Mahasiswa Sosiologi, 1(2). http://jmsos.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jmsos/article/view/6