Faktanya, asma pada bayi juga bisa terjadi, lho, Bu. Sebagai masalah gangguan pernapasan yang sifatnya bisa kambuh kapan saja, hal ini tentu sangat mengkhawatirkan. Terlebih lagi jika si Kecil memang memiliki riwayat keturunan asma dari keluarga.

Agar Ibu tidak panik saat menghadapi gejala asma pada si Kecil, simak ulasan berikut ini, ya!

Bagaimana asma bisa terjadi?

 

Asma adalah sebuah gangguan pernapasan yang disebabkan oleh peradangan pada saluran bronkial. Tabung bronkial membawa udara masuk dan keluar dari paru-paru.

Saat asma kambuh, tentu saja pernapasan akan menjadi lebih sulit. Hal ini diakibatkan oleh saluran napas yang menyempit sehingga menimbulkan gejala sesak napas, nyeri dada, dan juga mengi.

Bagaimana gejala asma pada bayi?

 

Penderita asma umumnya mengalami mengi saat gejalanya kambuh. Mengi adalah gejala napas dengan bunyi "ngik" yang terjadi secara berulang.

Namun pada bayi yang menderita asma, gejala mengi justru tidak selalu terlihat. Itulah mengapa gejala asma pada bayi seringkali tidak disadari karena hampir sama dengan gejala gangguan pernafasan lainnya.

Meski begitu, mengi bukan satu-satunya gejala asma pada bayi. Adapun beberapa gejala lainnya antara lain:

  • Bayi terlihat kesulitan bernapas
  • Bayi tampak sesak dan terasa tidak nyaman
  • Sulit menangis dan terlihat kelelahan
  • Sulit untuk menyusu atau makan
  • Sering batuk berdahak
  • Nafasnya berbunyi
  • Nafas terdengar pendek dan terengah-engah
  • Cuping hidung mengembang saat menarik nafas
  • Wajah tampak pucat, kuku cenderung membiru

Meski begitu, cukup sulit untuk mendiagnosa apakah bayi mengalami asma atau tidak. Dilansir dari Healthline, umumnya anak akan lebih mudah dideteksi positif asma atau tidak pada usia minimal dua tahun.

Sebab, gejala asma di atas juga bisa menjadi indikator penyakit lainnya seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), bronkitis, pneumonia, hingga asam lambung.

Meski begitu, Ibu harus tetap memeriksakannya ke dokter jika si Kecil mengalami sebagian besar gejala di atas.

Apa penyebab dan dampaknya pada kesehatan anak?

 

Asma disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya:

  • Infeksi virus
  • Riwayat keturunan penderita asma
  • Alergi pada pernafasan
  • Terpapar udara kotor sejak di dalam kandungan
  • Dilahirkan oleh ibu yang merokok selama kehamilan, baik pasif maupun aktif

Asma adalah gangguan pernapasan yang terjadi jangka panjang. Terlebih lagi asma dapat kambuh kapan saja apabila si Kecil dekat dengan penyebab dan pemicu gejala asma seperti debu, tungau, serangga, hingga polusi udara.

Peluang untuk bisa disembuhkan mungkin kecil, namun Ibu bisa mengupayakan hal ini dengan memberikan penanganan tepat sejak ditemukannya gejala asma pada bayi.

Setidaknya, hal ini bisa membantu si Kecil terbiasa dengan cara penanganan asma, seperti yang tertera di bawah ini.

Cara menangani asma pada bayi

 

1. Nebulizer wajib ada

 

Bagi bayi yang mengalami asma, dokter akan menyarankan penggunaan nebulizer untuk melancarkan kembali pernafasan yang tersumbat. Nebulizer adalah alat yang dapat mengubah obat dalam bentuk cairan menjadi uap untuk dihirup.

Ibu bisa melakukan treatment nebulizer ini di rumah, khususnya di saat-saat darurat ketika gejala asma si Kecil kambuh. Pastikan Ibu telah mendapatkan arahan dari dokter untuk melakukan nebulizer mandiri di rumah, ya.

2. Hirup udara segar setiap pagi

 

Bawa si Kecil ke luar rumah saat udara pagi masih bersih dan segar. Umumnya, ini terjadi pada pukul 05.00 - 06.00 pagi. Membiasakan si Kecil menghirup udara bersih dan segar dapat membantu meningkatkan fungsi paru serta fisiknya.

3. Membersihkan rumah

 

Tahukah Ibu, bahwa beberapa pemicu asma juga bisa datang dari tungau dan debu yang tak terlihat? Untuk itu, penting bagi Ibu menjaga kebersihan rumah agar kekambuhan asma bisa dicegah.

Pastikan Ibu selalu menjaga kebersihan pada seluruh permukaan atau objek yang sering tersentuh oleh Ibu atau pun si Kecil. Salah satu cara yang direkomendasikan ialah dengan mensterilkannya menggunakan cairan disinfektan yang dicampur dengan air.

Untuk permukaan meja, tempat tidur, tempat ganti popok serta alas bermain bayi, Ibu bisa menyemprotkan cairan disinfektan yang telah dicampur air ke permukaan tersebut. Semprotkan secukupnya, biarkan hingga 1-2 menit dan keringkan dengan lap bersih.

Untuk benda-benda yang biasa disentuh oleh Ibu dan bayi, seperti mainan, teether atau dot bayi, hingga peralatan makan bayi, Ibu bisa merendamnya dengan cairan disinfektan tersebut dan membilasnya berkali-kali hingga bersih tanpa residu.

Hal ini efektif untuk mencegah masuknya kuman serta debu ke saluran pernafasan si Kecil.

Yuk, kita berikan yang terbaik demi menjaga kesehatan pernafasan si Kecil!