Inisiasi Menyusui Dini (IMD) adalah proses pemberian ASI dalam jangka waktu satu jam pertama sejak bayi lahir. Proses ini dilakukan dengan metode skin to skin antara bayi dengan ibu. Bayi ditempatkan di dada Ibu dengan membiarkan bayi mencari puting dan menyesap ASI tanpa bantuan.

Mengapa Inisiasi Menyusui Dini sangat penting?

 

UNICEF dan WHO mencatat bahwa proses IMD sangat penting untuk kesehatan bayi di masa depan. Hal ini disebabkan karena kandungan kolostrum di dalam ASI yang sangat kaya nutrisi.

Kolostrum adalah cairan dengan warna kuning atau putih yang dihasilkan oleh payudara ibu segera setelah melahirkan. Kolostrum kaya akan antibodi serta nutrisi untuk bayi, sehingga bayi yang sukses melakukan IMD akan memiliki daya tahan tubuh yang kuat dan tidak mudah sakit.

Proses IMD juga dinilai dapat meningkatkan keberhasilan seorang Ibu memberikan ASI eksklusif setidaknya hingga bayi berusia 6 bulan.

Suka duka proses Inisiasi Menyusui Dini

 

Pentingnya proses IMD bukan hanya tanggung jawab Ibu seorang. Pasangan, keluarga, dokter kandungan dan petugas kesehatan yang menangani Ibu pun sama pentingnya untuk mendukung Ibu memberikan ASI pertama bagi si Kecil.

Sebagian Ibu mungkin berhasil, sebagian lagi tidak. Dilansir dari laman UNICEF, inilah 5 suka duka proses IMD yang dilalui oleh banyak Ibu pasca persalinan.

1. Paradigma terhadap kolostrum

 

Meski WHO telah menghimbau tentang pentingnya kolostrum bagi kesehatan bayi, sayangnya masih ada beberapa tradisi yang justru menganggap kolostrum sebagai cairan yang harus dibuang.

Kolostrum sebagai "susu pertama" justru dinilai sebagai cairan yang harus dibersihkan sebelum Ibu menyusui Si Kecil secara penuh.

Hal ini memang berkaitan dengan norma budaya, namun pada kenyataannya bukti ilmiah tentang pentingnya kolostrum bisa Ibu dapatkan dan pelajari sebelumnya.

2. Keberhasilan proses skin-to-skin

 

Salah satu hal yang disoroti dari proses IMD adalah kontak skin-to-skin antara Ibu dengan si Kecil. Momen mengharukan ini ternyata punya banyak manfaat untuk kehidupan si Kecil, lho, Bu!

Saat proses skin-to-skin, suhu tubuh Ibu akan membantu mengatur suhu tubuh si Kecil yang baru lahir. Selain itu, proses ini juga bisa memaparkan bakteri baik dari tubuh Ibu ke tubuh si Kecil yang akan membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya.

Sayangnya, tidak semua Ibu berkesempatan untuk melakukan proses skin-to-skin sesaat setelah bayinya lahir. Hal ini tentu saja berkaitan dengan kondisi Ibu dan si Kecil saat dilahirkan. Pada beberapa kasus, si Kecil yang baru lahir mungkin butuh diberikan tindakan tertentu agar kondisinya lebih stabil.

3. Operasi caesar

 

Ibu yang melahirkan dengan operasi caesar biasanya menghadapi banyak tantangan pasca persalinan, seperti memulihkan efek anestesi, kesulitan untuk mengubah posisi, dan lain-lain.

UNICEF mencatat proses IMD lebih rendah dilakukan oleh Ibu yang melahirkan secara caesar.

Meski begitu, jangan patah semangat ya, Bu! Ibu yang melakukan persalinan secara caesar tetap bisa melakukan IMD atas izin dari dokter kandungan. Bicarakan ini sejak awal menjelang hari persalinan tiba, sehingga dokter dan tenaga kesehatan lainnya dapat membantu Ibu melakukan IMD.

4. Tenaga kesehatan yang kurang kompeten

 

Faktanya, masih ada cukup banyak tenaga kesehatan yang tidak menyadari pentingnya proses Inisiasi Menyusui Dini. Mulai dari tidak adanya dukungan untuk Ibu dalam melakukan proses IMD, hingga memisahkan bayi secara langsung tanpa alasan medis.

Terlebih lagi, jika si Kecil yang baru lahir harus diberikan cairan atau makanan lain sebelum disusui oleh ibunya sendiri. Tentu saja, hal ini akan mengganggu tingkat Inisiasi Menyusui Dini.

5. ASI tidak keluar

 

Jika hal ini terjadi pada Ibu, sebaiknya Ibu tidak perlu panik. Sebab, ASI yang belum keluar setelah melahirkan adalah kondisi yang normal.

Faktanya, ASI bisa keluar ketika puting payudara mendapatkan rangsangan dari mulut bayi. Jika pada proses Inisiasi Menyusui Dini ASI Ibu belum keluar, tak ada salahnya untuk tetap membiarkan si Kecil menyesap puting. Hal ini bisa berpengaruh pada jumlah ASI di hari kedua hingga ketiga setelah persalinan.

Jangan lupa, tetap berpikir positif ya, Bu! Sebab, kualitas hormon pemicu ASI yaitu hormon oksitosin, sangat dipengaruhi oleh pikiran Ibu.

Mempersiapkan kelancaran IMD sejak awal kehamilan

 

Kesuksesan proses Inisiasi Menyusui Dini merupakan perpaduan dari pengetahuan serta kepedulian Ibu terhadap ASI untuk si Kecil. Selain tubuh yang sehat serta pikiran yang positif, Ibu juga wajib memperhatikan nutrisi yang Ibu konsumsi sejak awal kehamilan.

Faktanya, ASI sudah terbentuk sejak usia kehamilan 16-22 minggu. Pada minggu ini, jumlah hormon pembuat ASI yaitu hormon prolaktin semakin meningkat.

Untuk mengoptimalkan jumlah hormon prolaktin yang berpengaruh langsung pada produksi ASI, Ibu wajib memenuhi nutrisi zat besi, kromium, vitamin B kompleks serta protein. Tentu saja sumber nutrisi tersebut tak hanya dari makanan, melainkan juga dari susu yang Ibu konsumsi selama kehamilan.

Susu bisa menjadi alternatif terbaik Ibu dalam memenuhi nutrisi selama kehamilan. Cara konsumsinya yang mudah, membuat susu hamil kini semakin digandrungi para Ibu.

Seperti Enfamama A+ yang bisa melengkapi nutrisi Ibu dalam mempersiapkan produksi ASI yang prima pasca persalinan nanti. Enfamama A+ diformulasikan dengan kandungan protein dan kalsium yang tinggi serta dilengkapi 7 vitamin dan 5 mineral di dalamnya. Selain baik untuk daya tahan tubuh ibu hamil serta perkembangan janin, Enfamama A+ juga sangat baik untuk mengatur kualitas hormon Ibu termasuk diantaranya hormon prolaktin.

Penuhi nutrisi yang seimbang demi menciptakan kesehatan si Kecil di masa depan. Nikmati manfaat dari kesegaran Enfamama A+ selama perjalanan kehamilan dan menyusui Ibu di sini, ya!