• Produk Kami
    • Enfagrow A+ MFGM Pro
    • Enfagrow A+ Gentle Care
    • Enfagrow Essential
  • Artikel
    • Kehamilan & Menyusui
    • Tumbuh Kembang Anak
    • Pencernaan
  • Event dan Promosi
  • Brilliant Blueprint
  1. Home
  2. Pencernaan
  3. Gangguan Pencernaan Pada Bayi yang Moms Harus Ketahui!

Gangguan Pencernaan Pada Bayi yang Moms Harus Ketahui!

Gangguan Pencernaan Pada Bayi yang Moms Harus Ketahui!

Kemampuan bayi untuk makan dan mencerna nutrisi dengan baik merupakan salah satu faktor penting yang mendukung tumbuh kembangnya. Namun, masih ada Moms yang merasa khawatir ketika si Kecil mengalami gangguan pencernaan.

Kondisi ini dapat terjadi karena sistem pencernaan si Kecil masih terus berkembang hingga di usia 36 bulan, sehingga penyerapan nutrisi yang lebih kompleks, seperti protein, belum dapat berlangsung secara optimal. Akibatnya, si Kecil lebih rentan mengalami ketidaknyamanan pencernaan yang dapat memengaruhi kenyamanan dan aktivitasnya sehari-hari.

Yuk Moms, pahami lebih dalam supaya Moms bisa lebih tenang dalam menghadapi si Kecil.

Key Summaries: 

  • Sistem pencernaan bayi masih berkembang hingga usia 36 bulan sehingga lebih rentan mengalami ketidaknyamanan pencernaan.

  • Gangguan pencernaan yang umum terjadi pada bayi meliputi kolik (rewel), gumoh, perut kembung, sering buang angin, dan diare.

  • Sebagian besar gangguan pencernaan bersifat sementara, tetapi Moms perlu mengenali tanda bahaya yang memerlukan pemeriksaan dokter.

  • ASI tetap menjadi sumber nutrisi terbaik. Jika si Kecil mengonsumsi susu formula, konsultasikan dengan dokter untuk menentukan formula yang sesuai, termasuk formula dengan protein terhidrolisa parsial (PHP) yang rendah laktosa bila diperlukan.

  • Penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan pencernaan dan mendukung tumbuh kembang si Kecil.

Gangguan Pencernaan yang Dapat Terjadi pada Bayi

Masalah-masalah di bawah ini bisa berupa kondisi jangka pendek atau menjadi ciri ciri gangguan pencernaan pada bayi yang Moms harus perhatikan.

1. Rewel pada Bayi (Kolik)

Bayi yang sering rewel belum tentu hanya lapar atau mengantuk. Salah satu penyebabnya dapat berupa ketidaknyamanan pada saluran pencernaan. Hal ini terjadi karena sistem pencernaan si Kecil masih berkembang hingga usianya 36 bulan, sehingga proses mencerna nutrisi belum optimal. Akibatnya, gas dapat lebih mudah terbentuk di dalam saluran cerna dan membuat perut terasa tidak nyaman.

Kondisi ini juga dikenal sebagai kolik atau sering disebut infant distress syndrome, yaitu kondisi ketika bayi mengalami episode menangis atau rewel berlebihan tanpa penyebab medis yang jelas. Berdasarkan kriteria Rome V Guideline, kolik pada bayi didefinisikan sebagai kondisi pada bayi berusia kurang dari 5 bulan yang mengalami episode menangis, rewel, atau iritabilitas tanpa ditemukan gangguan kesehatan lain yang mendasari dan gejala ini bisa tetap berlangsung sampai bayi berusia lebih 5 bulan.

Menghadapi si Kecil saat kolik memang tidak mudah ya, Moms. Tapi ada beberapa cara yang bisa Moms lakukan untuk membantu menenangkan si Kecil:

  • Pastikan kebutuhan dasar bayi sudah terpenuhi, seperti lapar, popok yang perlu diganti, atau bayi merasa terlalu panas maupun dingin.
  • Gendong bayi dengan lembut atau lakukan kontak kulit (skin-to-skin) untuk memberikan rasa nyaman dan aman.
  • Ayun bayi secara perlahan atau gunakan gerakan menenangkan, misalnya menggendong sambil berjalan pelan.
  • Ciptakan suasana yang tenang, seperti meredupkan cahaya ruangan dan mengurangi suara bising yang dapat membuat bayi semakin sulit ditenangkan.
  • Lakukan pijatan lembut pada perut bayi atau gerakan mengayuh kaki (bicycle legs) untuk membantu mengurangi penumpukan gas yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada saluran cerna.

Asupan nutrisi dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan pencernaan pada bayi dengan kolik. Selain dukungan penanganan umum seperti reassurance dan upaya menenangkan bayi, pemilihan nutrisi yang tepat juga dapat menjadi bagian dari pendekatan yang dianjurkan.

Menurut IDAI, pada bayi dengan kolik yang membutuhkan susu formula dapat dipertimbangkan formula dengan protein terhidrolisa parsial (PHP) yang rendah laktosa. Formula ini lebih mudah dicerna karena proteinnya sudah dipecah menjadi lebih kecil dan laktosa nya yang kurang dari formula standar sehingga membantu mengurangi pembentukan gas di saluran cerna.

2. Gumoh pada Bayi

Gumoh merupakan kondisi yang umum dialami bayi, terutama setelah menyusu. Hal ini terjadi karena otot katup (sfingter) yang menghubungkan kerongkongan dan lambung masih belum berkembang sempurna, sehingga susu yang sudah diminum dapat kembali naik ke kerongkongan.

Meski umumnya normal, Moms perlu waspada apabila si Kecil gumoh dalam jumlah yang cukup banyak, gumoh menyembur, atau mengalami gumoh berulang yang disertai gejala lain. Kondisi tersebut dapat menandakan adanya masalah kesehatan, seperti intoleransi terhadap susu atau pemberian susu yang berlebihan (overfeeding). Bayi yang sering gumoh juga bisa mengisyaratkan kondisi fisik yang mengganggu pencernaan.

Segera konsultasikan ke dokter apabila:

  • Bayi sering gumoh dalam jumlah banyak atau gumoh menyembur.
  • Muntahan berwarna hijau atau bercampur darah.
  • Bayi tampak lemas, sulit menyusu, atau berat badannya tidak bertambah.

3. Perut Kembung

Perut kembung merupakan salah satu bentuk ketidaknyamanan pencernaan yang cukup sering dialami bayi. Kondisi ini dapat terjadi karena sistem pencernaan si Kecil masih belum matang, sehingga proses mencerna protein dan makanan tertentu belum optimal.

Selain itu, perut kembung umumnya normal terjadi karena sistem pencernaan si Kecil yang masih berkembang, di mana jumlah enzim untuk mencerna beberapa nutrisi kompleks seperti protein masih terbatas. Sehingga, asupan nutrisi yang dikonsumsi belum terserap optimal. Akibatnya, dapat memicu penumpukan gas di dalam usus, yang sering kali membuat perut si Kecil terasa kembung.

Selain membuat bayi tampak tidak nyaman, perut kembung juga dapat menyebabkan si Kecil menjadi lebih rewel, sering menarik kaki ke arah perut, atau mengalami gangguan tidur. Untuk membantu mengurangi keluhan ini, Moms dapat menyendawakan bayi setelah menyusu, memastikan pelekatan saat menyusui sudah benar, serta menghindari pemberian susu secara berlebihan.

4. Buang Angin

Buang angin merupakan cara alami tubuh bayi mengeluarkan gas dari saluran pencernaan. Selama frekuensinya masih normal dan tidak disertai gejala lain, kondisi ini umumnya tidak perlu dikhawatirkan.

Namun, apabila bayi sering buang angin disertai perut yang tampak kembung, rewel, atau sulit menyusu, kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya ketidaknyamanan pencernaan akibat penumpukan gas. Moms dapat membantu mengurangi keluhan ini dengan rutin menyendawakan bayi setelah menyusu dan memberikan pijatan lembut pada area perut sesuai anjuran tenaga kesehatan.

5. Diare

Diare adalah kondisi ketika bayi buang air besar lebih sering dari biasanya dengan konsistensi feses yang lebih cair. Pada bayi, diare umumnya terjadi karena sistem pencernaan yang belum berkembang sempurna sehingga lebih sensitif terhadap infeksi, perubahan pola makan, atau jenis makanan dan susu yang dikonsumsi. Selain itu, diare juga dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, maupun kondisi lain yang memengaruhi saluran cerna.

Apabila diare berlangsung lebih dari dua hari, disertai demam tinggi, muntah berulang, atau terdapat darah pada feses, segera bawa si Kecil ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Cara Mengatasi Gangguan Pencernaan pada si Kecil

  • Berikan ASI lebih sering sesuai kebutuhan bayi
  • Perhatikan kebersihan botol susu, dot, dan peralatan makan bayi
  • Jaga kebersihan tangan sebelum dan sesudah merawat bayi
  • Pantau kondisi bayi secara berkala dan catat perubahan gejala
  • Sesuaikan susu formula dengan kondisi pencernaan si Kecil. Pada beberapa kasus, Moms bisa mempertimbangkan susu formula dengan kandungan protein terhidrolisa parsial (PHP) yang rendah laktosa. Formula PHP merupakan protein yang telah dipecah menjadi ukuran lebih kecil sehingga lebih mudah dicerna dan bantu mendukung pencernaan si Kecil agar lebih nyaman.

Kesimpulan

Jika si Kecil mengalami gangguan pencernaan seperti rewel akibat kolik, gumoh, perut kembung, sering buang angin, atau diare, Moms tidak perlu panik. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah tetap memberikan ASI karena merupakan sumber nutrisi terbaik untuk mendukung tumbuh kembang dan kesehatan sistem pencernaan si Kecil. Selain itu, berikan sentuhan yang menenangkan, seperti menggendong, memijat dengan lembut, atau menciptakan suasana yang nyaman agar si Kecil merasa lebih tenang.

Apabila si Kecil mengonsumsi susu formula, konsultasikan dengan dokter untuk menentukan pilihan formula yang sesuai dengan kondisinya.Moms bisa mempertimbangkan susu formula dengan protein terhidrolisa parsial (PHP) yang rendah laktosa. Formula PHP ini mengandung protein yang telah dipecah menjadi ukuran yang lebih kecil dan kandungan laktosa yang lebih rendah dari formula standar, sehingga lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan si Kecil yang masih berkembang dan dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan pencernaan.

Jika keluhan tidak membaik, terjadi berulang, atau disertai gejala lain seperti demam, muntah berwarna hijau, terdapat darah pada feses, atau si Kecil tampak lemas dan sulit menyusu, segera konsultasikan dengan dokter agar si Kecil mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

FAQ

1. Apakah gangguan pencernaan pada bayi normal?

Ya, beberapa kondisi seperti gumoh, perut kembung, dan sering buang angin umumnya normal karena sistem pencernaan bayi masih berkembang.

2. Mengapa bayi sering mengalami gangguan pencernaan?

Karena sistem pencernaan si Kecil belum matang, sehingga nutrisi seperti protein belum dapat dicerna secara optimal.

3. Bagaimana cara mengatasi gangguan pencernaan pada bayi?

Tetap berikan ASI, bantu si Kecil bersendawa setelah menyusu, dan konsultasikan dengan dokter jika gejala tidak membaik.

4. Kapan Moms perlu membawa bayi ke dokter?

Segera konsultasikan ke dokter jika gejala berlangsung terus-menerus, disertai demam, muntah hijau, darah pada feses, atau bayi tampak lemas.

5. Apakah susu formula dapat membantu mengatasi gangguan pencernaan pada si Kecil?

Jika si Kecil mengalami ketidaknyamanan pencernaan seperti rewel, perut kembung dan sering buang angin, dokter mungkin merekomendasikan susu formula dengan protein terhidrolisa parsial (PHP) yang rendah laktosa sesuai kondisi si Kecil agar pencernaan si Kecil tetap nyaman.

REFERENSI: 

  • https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6506429/

  • https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/intoleransi-laktos

  • https://www.who.int/health-topics/infant-nutrition
  • https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/gangguan-pencernaan-pada-bayi-i
  • https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/gangguan-pencernaan-pada-bayi-2
  • https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/susu-formula-alternatif-untuk-alergi-susu-sapi

  • Terms & Conditions
  • Cookie Policy
  • Privacy Policy
© 2025 Enfa Indonesia • Copyright
  • tiktok