Apa Itu Kolik yang Sering Dialami Anak 0-36 Bulan? Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya

Moms, saat si Kecil tiba-tiba sering menangis terus-menerus, padahal sudah disusui, digendong, bahkan popoknya bersih? Rasanya sangat wajar kalau Moms akan langsung khawatir. Tenang ya, Moms, kondisi seperti ini cukup sering terjadi pada si Kecil di bawah usia 36 bulan dan dikenal sebagai kolik.
Kolik memang bisa membuat Moms merasa bingung dan lelah. Tapi kabar baiknya, kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan bisa diatasi dengan cara yang tepat. Yuk Moms, pahami lebih dalam supaya Moms bisa lebih tenang dalam menghadapi si Kecil.
Key Summaries:
Kolik adalah kondisi ketika bayi menangis intens dalam waktu lama tanpa penyebab medis yang jelas, berdasarkan kriteria terbaru mengacu pada Rome V.
Salah satu penyebab utama kolik adalah sistem pencernaan bayi yang belum matang.
Ketidaknyamanan pencernaan dapat memicu gas berlebih dan membuat bayi rewel.
Penanganan kolik bisa dilakukan dengan perawatan sederhana dan dukungan nutrisi yang tepat
Apa Itu Kolik?
Kolik adalah kondisi ketika si Kecil menangis berlebihan dan sulit ditenangkan tanpa penyebab medis yang jelas. Berdasarkan kriteria dari Rome V Guideline, kolik pada bayi ditandai dengan beberapa hal berikut:
Bayi sering menangis dan rewel dalam waktu yang lama tanpa penyebab yang jelas. Meski sudah berusaha ditenangkan oleh orang tua atau pengasuh, si Kecil tetap kesulitan menghentikan tangisan tersebut.
Kondisi ini umumnya mulai dialami bayi sebelum usia 5 bulan. Namun, pada beberapa bayi, gejalanya dapat berlanjut setelah memasuki usia 5 bulan.
Dalam pedoman terbaru, istilah “kolik” digunakan dengan lebih hati-hati karena kondisi ini dinilai mencerminkan berbagai bentuk ketidaknyamanan pada bayi, bukan semata-mata disebabkan oleh masalah pencernaan.
Penyebab Kolik
Mungkin banyak Moms yang bertanya-tanya soal penyebab kolik. Sebenarnya, penyebab dari kolik itu sendiri belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga berperan. Salah satu yang paling utama adalah ketidaknyamanan pada sistem pencernaan bayi yang belum matang.
1. Sistem Pencernaan Belum Berkembang Sempurna
Pada usia 0-36 bulan, sistem pencernaan si Kecil masih dalam tahap perkembangan. Produksi dan aktivitas enzim pencernaan pun belum optimal, sehingga berpotensi terjadi beberapa hal, seperti:
- Asupan nutrisi yang kompleks seperti protein, tidak dapat dicerna secara maksimal
- Sisa protein yang tidak tercerna dapat tertinggal di usus dan difermentasi oleh bakteri
- Proses ini menghasilkan gas berlebih di saluran cerna
Penumpukan gas berlebih ini yang akhirnya menyebabkan ketidaknyaman atau rasa nyeri pada si Kecil, sehingga ia menjadi rewel, sering menangis, dan tampak seperti tidak nyaman.
2. Pergerakan Usus Belum Stabil
Selain enzim pencernaan yang belum matang, gerakan usus atau peristaltik pada si Kecil juga belum bekerja secara optimal. Pada anak di bawah usia 36 bulan, gerakan usus ini bisa berlangsung terlalu lambat sehingga gas dan sisa makanan tertahan lebih lama di dalam perut. Sebaliknya, gerakan yang terlalu cepat juga dapat membuat makanan tidak tercerna dengan baik.
Kondisi ini dapat membuat rasa tidak nyaman pada perut si Kecil menjadi lebih parah, seperti kembung dan sering buang angin. Oleh karena itu, penting bagi Moms untuk memahami bahwa hal ini merupakan bagian dari proses perkembangan sistem pencernaan bayi yang masih beradaptasi.
3. Beberapa Faktor Lain
Kolik pada si Kecil dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya, Moms. Di antaranya adalah sistem saraf yang masih dalam tahap perkembangan, sehingga respons si Kecil terhadap rangsangan lingkungan seperti suara dan cahaya bisa menjadi lebih sensitif.
Selain itu, pola menyusu yang belum optimal juga bisa berperan. Namun, dibandingkan dengan faktor-faktor tersebut, masalah pada sistem pencernaan menjadi salah satu penyebab yang paling sering berkontribusi terhadap munculnya kolik pada bayi.
Cara Mengatasi Kolik pada Bayi
Menghadapi si Kecil saat kolik memang tidak mudah ya, Moms. Tapi ada beberapa cara yang bisa Moms lakukan untuk membantu menenangkan si Kecil, yakni menerapkan teknik 5S serta memperhatikan asupan nutrisi.
1. Swaddle (Bedong)
Membungkus si Kecil dengan kain bedong dapat membantu memberikan rasa hangat dan aman seperti saat berada di dalam rahim. Teknik ini juga dapat membantu mengurangi refleks kaget yang sering membuat bayi semakin sulit tenang.
Namun, pastikan bedong tidak terlalu ketat, terutama pada area kaki dan pinggul agar si Kecil tetap nyaman bergerak. Selain itu, hentikan penggunaan bedong jika si Kecil sudah mulai menunjukkan tanda ingin berguling.
2. Side atau Stomach Position
Menggendong si Kecil dengan posisi miring atau tengkurap di lengan Moms dapat membantu memberikan rasa nyaman sementara dan mengurangi rewel.
Perlu diperhatikan, posisi ini hanya dilakukan saat Moms sedang menggendong atau menenangkan si Kecil, bukan saat tidur. Untuk tidur, posisi telentang tetap menjadi posisi yang paling aman untuk bayi.
3. Shush
Mengeluarkan suara lembut seperti “sshhh…” atau white noise dapat membantu menenangkan si Kecil. Hal ini karena selama di dalam kandungan, bayi terbiasa mendengar suara yang konstan dari tubuh ibunya.
Moms bisa mencoba mengeluarkan suara lembut secara berulang atau menggunakan suara latar yang tenang dengan volume yang tidak terlalu keras.
4. Swing
Gerakan kecil dan ritmis seperti mengayun perlahan atau berjalan sambil menggendong dapat membantu si Kecil merasa lebih nyaman.
Tidak perlu mengayun terlalu kuat, karena gerakan yang terlalu berlebihan justru dapat membuat bayi tidak nyaman. Cukup lakukan gerakan lembut dan konsisten.
5. Suck
Mengisap merupakan salah satu refleks alami yang dapat membantu bayi merasa lebih rileks. Moms dapat memberikan ASI atau membiarkan si Kecil mengisap sesuai kebutuhannya.
Pada beberapa bayi, aktivitas mengisap dapat membantu menenangkan tubuh dan membuat tangisan lebih cepat mereda.
6. Perhatikan Asupan Nutrisi
Untuk si Kecil yang telah mengkonsumsi susu formula, pemilihan jenis susu juga perlu menjadi perhatian Moms. Mengacu pada rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, susu formula dengan protein parsial terhidrolisis (PHP) serta kandungan laktosa yang lebih rendah dapat menjadi pilihan.
Jenis susu ini cenderung lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan si Kecil yang masih berkembang karena telah melalui proses pemecahan protein menjadi lebih kecil, lebih mudah dicerna sehingga dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan pencernaan seperti perut kembung, kolik, atau rewel.
Kesimpulan
Kolik adalah kondisi umum pada bayi usia 0-36 bulan yang ditandai dengan tangisan berlebihan tanpa penyebab medis yang jelas. Meskipun sering membuat khawatir, kondisi ini umumnya tidak berbahaya.
Salah satu faktor utama kolik adalah sistem pencernaan si Kecil yang belum matang, dan dapat menyebabkan gas berlebih serta rasa tidak nyaman di perut. Dengan perawatan yang tepat, suasana yang tenang, serta dukungan nutrisi yang sesuai, Moms bisa membantu si Kecil melewati fase ini dengan lebih nyaman.
FAQ
1. Apakah kolik berbahaya untuk bayi?
Tidak. Kolik umumnya tidak berbahaya dan akan membaik seiring bertambahnya usia bayi.
2. Kolik biasanya terjadi pada usia berapa?
Kolik paling sering terjadi pada bayi usia 2 minggu hingga sekitar 3-4 bulan.
3. Apakah semua bayi pasti mengalami kolik?
Tidak semua bayi mengalami kolik, tetapi kondisi ini cukup umum terjadi.
4. Kapan harus membawa bayi ke dokter?
Jika bayi menangis terus-menerus disertai demam, muntah, atau tidak mau menyusu, sebaiknya segera periksakan ke dokter.
5. Apakah kolik bisa dicegah?
Tidak sepenuhnya, tetapi risiko dapat dikurangi dengan memastikan pencernaan bayi nyaman dan pola menyusu yang tepat.
6. Apa rekomendasi IDAI untuk anak yang kolik?
Anak yang kolik dapat dibantu salah satunya dengan pemberian susu dengan protein yang terhidrolisis parsial (PHP) dan rendah laktosa serta upaya menenangkan bayi agar pencernaan si Kecil tetap nyaman.