memahami

Si kecil memasuki periode yang menarik dimana otaknya berkembang begitu pesat dan Ibu bahkan dapat melihat perubahannya dari hari ke hari. Otaknya tidak menambahkan sel-sel baru dalam jumlah yang sama seperti ketika ia baru lahir tetapi terus menambah akson dan dendrit baru, cabang-cabang yang mendorong sinyal dari neuron satu ke neuron lain serta mendukung komunikasi antar bagian otak. Ketika neuron melalui suatu proses yang disebut mielinisasi, sinyal-sinyal ini bergerak dengan lebih cepat dan mendorong pengenalan dan fungsi motorik yang semakin kompleks.

Apa sebenarnya yang terjadi dalam mielinisasi? Mielinisasi adalah proses pelapisan lemak pada ujung saraf dimana hal ini mempercepat transmisi impuls saraf dan mendukung fungsi kognitif yang lebih kompleks. Namun mielinisasi ini terjadi di beberapa bagian otak yang berbeda dan dalam waktu yang berbeda pula. Hal ini dimulai saat si kecil masih berada dalam kandungan dengan lapisan sel sensorik dan motorik utama yang terletak di batang otak. Proses kemudian berlanjut secara bertahap ke bagian lain otak dimana sel-sel yang mengatur fungsi paling dasar adalah sel yang mengalami mielinisasi pertama kali, sedangkan sel yang mengatur fungsi lebih tinggi adalah yang terakhir. Kebanyakan proses mielinisasi selesai pada dua tahun pertama kehidupan tetapi pada bagian-bagian yang berhubungan dengan pemikiran paling kompleks dan abstrak terus berlanjut ke masa kanak-kanak, dan mungkin hingga masa dewasa. Berikut ini adalah beberapa aspek perkembangan yang akan Ibu lihat dan hal yang mendukungnya.

Perkembangan Kognitif

Jika si kecil mulai menguji kesabaran Ibu dengan melakukan hal yang sama berulang kali—seperti menjatuhkan mainan atau sendok ketika Ibu mencoba memberinya makan—maka, selamat! Memang hal inilah yang seharusnya ia lakukan pada tahap ini. Bayi memperoleh pemahaman tentang konsep-konsep seperti sebab dan akibat serta object permanence (suatu objek masih tetap ada walau tidak terlihat) melalui eksperimen dan repetisi. Ketika sendok jatuh, ia belajar gravitasi; ketika sendok jatuh ke lantai dengan suara berdenting, ia belajar mengenai suara; dan ketika Ibu mengambilnya, ia mengetahui bahwa Ibu bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap kali ia mengulang tindakannya, hal ini menstimulasi sirkuit saraf pada otak yang akan menjadi semakin kuat jika sering digunakan. Berlatih kegiatan yang sama berulang kali tidak hanya memperkuat pembelajaran tetapi juga meletakkan dasar untuk pembelajaran dan pemahaman yang lebih rumit.

Perkembangan Motorik

Si kecil tidak dapat menguasai tahapan tumbuh kembang motorik kasar seperti duduk, merangkak, dan berusaha berdiri tanpa perkembangan cerebellum, bagian dari otak yang mengatur koordinasi dan keseimbangan. Koordinasi motorik yang diperlukan untuk memegang mainan genggam, menyentuh dan mendorong mainan gantung dengan tangannya, serta menarik dan mendorong—yang terjadi sekitar sebelum ulang tahun pertamanya—juga dapat ia lakukan seiring meningkatnya jumlah koneksi saraf di otak. Kemampuan motorik ini menjadi lebih baik dan kuat tiap kali si kecil mengulangi dan melakukan suatu tindakan. Koordinasi motorik menjadi lebih baik lagi dengan diferensiasi otak kanan-kiri yang terus menguat selama periode ini. Otak kanan mengontrol proses spasial yang mendukung pemahaman visual si kecil sedangkan otak kiri mengontrol penguasaan bahasa.

Perkembangan Komunikasi

Pada tahun pertama kehidupan, si kecil menangkap lebih banyak suara daripada orang dewasa dan tantangannya adalah belajar untuk membedakan suara-suara tersebut. Ketika si kecil mulai fokus dengan mengingat suara pembicaraan tertentu dan menyaring suara lain, ia mulai mempelajari bahasa. Hal ini membantu otak untuk menyingkirkan beberapa jalur saraf yang tidak digunakan. Semakin sering ibu berkomunikasi secara lisan dengan si kecil, semakin banyak kesempatannya belajar komunikasi. Selain itu, perlu diingat jika si kecil mungkin dapat mengembangkan kemampuan bahasa lebih cepat ketika otaknya fokus secara lebih spesifik dan lingkungannya tidak cukup bising (seperti suara TV) yang mengganggu proses si kecil mendengar dan menyimak.

Perkembangan Sosial

Kemampuan mendengar, bahasa, dan menafsirkan ekspresi wajah, yang merupakan kunci sukses dalam interaksi sosial, berawal di lobus temporal otak. Seiring pertumbuhan koneksi saraf di salah satu bagian otak si kecil yang berusia 6 – 12 bulan menjadi semakin kompleks, si kecil menjadi semakin tertarik dan terlibat dengan orang-orang di sekelilingnya. Disamping itu, selama periode ini si kecil mulai membuat ikatan yang lebih erat dengan pengasuh utamanya. Perubahan ini sebagian disebabkan oleh lonjakan pertumbuhan pada lobus frontal (mengatur ingatan dan berperan dalam proses belajar dan bahasa). Si kecil dapat dengan tegas mengenali Ibu, Ayah dan pengasuh lain. Di sisi lain, si kecil juga mengenali orang yang asing baginya dimana hal ini dapat memicu fase kecemasan terhadap orang asing.