stimulasi

Selama enam bulan pertama masa batita, si kecil semakin aktif setiap jamnya. Bagaimana ibu dapat mendukung perkembangannya? Selain memastikan ia mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan setiap hari, kegiatan-kegiatan ini ini akan membantu si kecil berkembang di berbagai aspek, termasuk kognitif, motorik, komunikasi, dan sosial.

Perkembangan Kognitif

Berikan si kecil misi sederhana. Saat si kecil tumbuh dan mampu merespon perintah, libatkan ia dengan permintaan seperti "Berikan Ayah ciuman," "Ambilkan bola," dan "Coba tunjuk yang mana ya, kucing." 

Latihan mengambil keputusan sederhana. Misalnya, Ibu dapat menawarkan si kecil dua mainan untuk dipilih atau memintanya untuk memilih mana dari dua balok yang berbeda bentuk yang akan masuk ke ruang tertentu. 

Ajarkan cara mengelompokkan benda. Sediakan beberapa keranjang, kotak, atau ember yang masing-masing diisi benda sejenis. Misalnya, satu wadah diisi dengan mainan balok, satu dengan boneka binatang, dan yang ketiga dengan mobil-mobilan. Si kecil akan senang saat mengosongkan wadah-wadah tadi, memilah isinya, dan mengembalikan mainan-mainan tadi ke wadah aslinya. 

Bermain pura-pura/peran. Gunakan mainan dari berbagai benda sehari-hari, misalnya berbicara di telepon, mengadakan jamuan minum teh, atau membangun rumah balok menggunakan palu plastik. 

Matikan alat elektronik. Interaksi langsung dengan orang-orang nyata dan bermain dengan benda-benda yang dapat disentuh, dirasakan dengan mulut, dan benda bergerak akan lebih mendorong perkembangan kognitifnya dibandingan dengan menggunakan komputer, tablet,  atau layar televisi. 

Perkembangan Motorik

Biarkan si kecil memanjat tangga dengan diawasi. Kebanyakan anak akan menggunakan kombinasi merangkak dan berjalan untuk menaiki tangga dan akan turun dengan ditopang perutnya, menurunkan kakinya terlebih dulu. Selama Ibu menjaganya agar tidak terjatuh, si kecil akan mendapatkan pengalaman dan kepercayaan diri karena diizinkan untuk mengarahkan tubuhnya sendiri. 

Biarkan ia menjelajah. Jika si kecil belum bisa berjalan sendiri,  dorong kursi dan benda-benda kokoh lainnya agar  berdekatan, sehingga si kecil dapat menjelajah di sekitar ruangan dengan merambat dari satu perabot ke perabot berikutnya.  Atau coba bergerak beberapa langkah menjauhinya ketika ia berdiri dan sodorkan mainan agar ia tergerak untuk mengambilnya meski masih tergopoh ke arah Ibu. 

Tetap tenang. Cobalah untuk tidak menunjukkan rasa takut, panik, atau khawatir berlebihan ketika si kecil terjatuh. Jika Ibu merespon dengan cara yang lebih tenang dan meyakinkan, ia akan cenderung berpikir hal ini bukan masalah besar, dan ia akan kembali bangkit, dan mencoba lagi. 

Minta si kecil membalik halaman buku. Biarkan si kecil yang membalik halaman dari sebuah buku ketika Ibu membaca. Ini latihan yang bagus untuk keterampilan motorik halusnya. Buku yang halamannya terbuat dari bahan tebal adalah cara terbaik untuk memulai, tetapi dengan sering berlatih ia juga akan mampu membalik halaman yang tebuat dari kertas biasa . 

Menyanyikan lagu-lagu yang melibatkan gerakan  tangan dan tubuh.  Ada banyak lagu anak-anak yang bisa Ibu pilih, baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris: “Kepala, Pundak, Lutut, Kaki,” “Dua Mata Saya,” “The Itsy Bitsy Spider,” dan “I’m a Little Teapot”   (meskipun si kecil belum tahu mana sisi kiri dan kanan), misalnya. 

Perkembangan Komunikasi

Bicara, bicara, dan bicara! Ini adalah salah satu hal terbaik yang dapat Ibu lakukan untuk meningkatkan perkembangan komunikasi dan kecerdasan si kecil. Para peneliti secara konsisten menemukan korelasi kuat antara banyaknya kata-kata yang didengar anak dari orangtua dan pengasuhnya pada usia 3 tahun dengan hasil tes IQ dan performa di sekolah. 

Menanggapi gerakan si kecil. Ketika ia mengangkat tangannya karena ingin digendong, menunjuk ke suatu objek, atau menggeleng tanda tidak, misalnya, tanggapan Ibu akan menegaskan bahwa gerakan yang ia lakukan memiliki makna dan mendorong upaya komunikasinya. Jangan khawatir bahwa cara ini akan menghambat proses si kecil belajar berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata, anggap  gerakan tubuhnya sebagai batu loncatan untuk proses berkomunikasi secara lisan, dan sekarang ini si kecil bisa memanfaatkan cara ini untuk membantu mengurangi rasa frustrasi. 

Gunakan gerak tubuh  yang sesuai saat Ibu berbicara. Cara ini akan memperluas pengetahuan bahasa tubuh si kecil dan membantunya memahami arti dari apa yang Ibu katakan. Contohnya, ketika Ibu mengatakan, "Kemarilah," lakukan gerakan dengan tangan Ibu yang menandakan Ibu memintanya mendekat. Ketika Ibu mengatakan, "Duduklah di sini," iringi dengan menepuk kursi di sebelah Ibu. Ketika Ibu mengatakan, "Beri Ibu cangkir," katakan dengan tangan yang terbuka. 

Kemampuan Sosial

Bercermin bersama. Berdirilah di depan cermin setinggi badan bersama si kecil dan Ibu akan senang melihat bagaimana si kecil kini memahami bahwa bayangan yang dilihatnya di cermin  adalah dirinya sendiri. Tepuk kepalanya dengan lembut atau bertepuk tangan bersamanya, sehingga ia bisa ikut merasa dan melihat apa yang terjadi.

Katakan ya untuk tidak. Jangan heran jika si kecil mulai menolak keputusan yang Ibu buat untuknya, baik dalam hal apa yang akan ia pakai, makan, atau bermain. Menegaskan dirinya dengan mengatakan tidak merupakan pertanda baik dari tumbuhnya kesadaran atas keberadaan dirinya sendiri. Ibu dapat mendukungnya dengan membiarkan ia melakukan berbagai hal tadi dengan caranya sendiri, bila memang memungkinkan, dan menghindari perdebatan dengan si kecil. 

Jangan memaksanya berbagi.  Si kecil belum bisa memahami konsep berbagi, jadi jika ia berada di tengah konflik dengan teman bermain karena berebut mainan, lebih baik Ibu mengalihkan perhatiannya ke mainan lain, atau kegiatan lainnya daripada memaksanya untuk berbagi.