Anak-anak di usia ini kadang membingungkan. Mereka terlihat dan bertindak seperti anak besar, namun masih mencari Ibu untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman. Mereka terjun ke dalam situasi baru tanpa pikir panjang namun tak lama kemudian kembali ke zona aman. Soal makanan, rata-rata selera mereka tidak menentu, suatu makanan yang mereka sukai selama berminggu-minggu bisa saja tiba-tiba ditolak keras tanpa alasan yang jelas.

Pola makan yang sehat dengan berbagai nutrisi—termasuk protein, zat besi, seng, selenium, yodium, asam folat, vitamin A, kolin, dan asam lemak tak jenuh ganda berantai panjang (seperti DHA dan ARA)—masih berperan penting. Tapi ingat bahwa keseimbangan vitamin, mineral, dan nutrisi lainnya yang diterima oleh si kecil sepanjang minggu lebih penting daripada apa yang ia makan di hari tertentu saja. Tantangannya adalah menemukan cara agar si kecil dengan sengan hati memakan makanan bergizi yang Ibu berikan dan memberikan kebebasan kepadanya untuk membuat pilihan. Berikut adalah beberapa informasi untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi dalam semua aspek perkembangan si kecil.

Perkembangan Kognitif

Pada usia 5 tahun, otak si kecil mencapai 90 persen dari ukuran otak dewasa. Meskipun tidak berkembang secepat yang terjadi selama dua tahun pertama kehidupannya, jumlah sinapsis di seluruh cerebal cortex–tempat terjadinya proses kognitif paling pesat–sedang pada masa puncaknya. Hal ini akan bertahan selama beberapa tahun ke depan, hingga sekitar usia 8 tahun, ketika sinapsis yang jarang digunakan (jalur antar neuron) mulai berkurang. Karena proses mielinisasi (yang mempercepat sistem penyampaian pesan elektrokimia otak) telah melambat, si kecil tidak memerlukan lemak dalam jumlah yang banyak dibandingkan pada awal usianya. Otaknya kini memproses informasi dengan jauh lebih efisien, dan Ibu akan melihat hasilnya saat ia belajar huruf dan angka dan mulai menggunakannya secara abstrak (misalnya dalam mengeja kata dan menghitung).

Tingkat metabolisme glukosa dalam otak si kecil terus meningkat secara konsisten sejak lahir dan mencapai dua kali lipat orang dewasa pada usia 4 tahun (dan akan tetap demikian sampai sekitar usia puber). Karena glukosa adalah sumber utama dari energi tubuh—dan otak—dan anak-anak lebih rentan terhadap efek buruk dari penurunan gula darah, sangat penting untuk memastikan asupan glukosa mereka secara terus menerus. Jika si kecil tidak makan dalam waktu yang lama, maka dapat menyebabkan gangguan pengendalian diri, kesulitan fokus, mudah marah, dan kelelahan. Studi menunjukkan bahwa menyantap sarapan (setelah semalaman tidak makan) memiliki efek positif langsung pada fungsi kognitif pada anak-anak. Makan teratur dan camilan makanan ringan adalah kunci untuk menjaga kadar gula darah, makanan mereka harus mengandung karbohidrat sehat yang ditemukan dalam buah, sereal, roti, pasta, dan nasi, yang dengan cepat diproses oleh tubuh menjadi glukosa.

Baca Juga : Memahami Perkembangan Otak Si Kecil: Usia 3 sampai 5 Tahun

Perkembangan Motorik

Seiring perkembangan keterampilan motoriknya, si kecil menjadi semakin mahir dalam kegiatan seperti makan dan berpakaian sendiri, menggambar dengan pensil atau krayon, serta melempar dan menendang bola. Vitamin D tetap menjadi nutrisi penting untuk membangun tulang dan jaringan tubuh yang kuat, hal ini juga telah dikaitkan dengan sejumlah manfaat kesehatan lainnya di kemudian hari, termasuk pencegahan penyakit. Namun hanya sedikit sumber vitamin D dalam makanan sehari-hari, selain susu balita dan susu sapi yang telah diperkaya dengan Vitamin D.

Perkembangan Komunikasi

Sekarang Ibu benar-benar dapat berbicara dalam bentuk percakapan dengan si kecil. Pengucapan dan tata bahasanya semakin mirip dengan Ibu, sementara kompleksitas kalimatnya mulai mengejar proses berpikirnya yang memang sudah kian rumit. Hal tersebut (ditambah kemampuannya yang lebih besar untuk mengendalikan hasratnya) berarti Ibu memiliki semua elemen yang  butuhkan untuk percakapan di meja makan yang menarik. Prioritaskan untuk duduk dan makan bersama karena bermanfaat sangat baik untuk kesehatan keluarga.  Studi telah menunjukkan bahwa ketika sebuah keluarga makan bersama dan mengonsumsi lebih banyak buah-buahan, sayuran, dan serat serta mengurangi makanan yang digoreng,  hal ini mengarah pada perkembangan kognitif dan fisik yang lebih sehat dan komunikasi yang lebih baik antar anggota keluarga.

Perkembangan Sosial

Selama obrolan malam di meja makan (dan juga sesudahnya), Ibu dapat mempelajari perkembangan sosial si kecil yang semakin meluas. Teman menjadi bagian besar dari kehidupan sosial tersebut. Si kecil mungkin memiliki beberapa teman dekat di sekolah, dan ia biasanya ingin membangun pertemanan yang baik dengan mereka. Saat makan malam bersama, meja makan menjadi tempat bagi ibu untuk dapat mendengarkan cerita si kecil dan memberikan masukan padanya, atau berbicara topik menarik lainnya. Ini juga kesempatan yang tepat bagi Ibu untuk memberi contoh perilaku makan yang baik, yang akan menjadi semakin penting karena si kecil akan menghabiskan lebih banyak waktu berbagi makanan dengan teman-teman mereka dan keluarganya, di rumah, di sekolah, dan tempat lainnya. Kebiasaan makan yang ia pelajari di rumah juga akan membantunya memilih makanan yang baik untuk dikonsumsi saat ia berada di luar rumah bersama temannya.