memahami

Jika Ibu merasa si kecil sepertinya telah belajar suatu keterampilan baru setiap detiknya, Ibu tidak salah. Tahun-tahun prasekolah adalah periode dimana otaknya berkembang dengan sangat cepat, didukung oleh dua proses yang terjadi bersamaan: synaptogenesis dan mielinisasi. Synaptogenesis menghubungkan saraf ke jaringan melalui penciptaan sinapsis baru di otak. Sementara itu, mielinisasi melapisi saraf dengan lemak, lapisan pelindung yang membantu transmisi sinyal otak menjadi lebih cepat. Jaringan yang berkembang semakin efisien dan rumit ini membantu komunikasi antara bagian-bagian otak dan membuat si kecil siap untuk belajar berbagai hal, dari kata baru, lagu baru, hingga konsep baru tentang cara kerja alam semesta. Berikut ini adalah beberapa bentuk perkembangan otak yang dialami si kecil.

Perkembangan Kognitif

Otak anak-anak tumbuh sesuai program, dengan urutan bawah-ke-atas, dari batang otak yang mengontrol fungsi tubuh paling dasar hingga korteks yang mengatur pemikiran yang paling kompleks. Para ahli sepakat bahwa ada periode kritis dalam perkembangan otak dimana anak-anak menjadi sangat sensitif terhadap lingkungan (yang mencakup segala hal, dari mendapat stimulasi yang tepat hingga nutrisi yang tepat) sebagai pembelajarannya. Dari situ, perkembangan kognitif adalah tentang stimulasi dan koneksi saraf yang memperkuat dan memperluas fungsinya.

Sebagian besar anak-anak tidak dapat membaca pada usia 5 tahun, namun antara usia 3 dan 5 tahun mereka belajar mengenal huruf dan menghubungkannya dengan suara. Menunjukkan abjad ABC kepada si kecil sambil mengeja huruf keras-keras akan mendorongnya untuk menggunakan tiga wilayah korteks yang berbeda untuk mengolah informasi tersebut. Secara khusus, visual cortex memilah simbol yang dilihat si kecil, sebuah bagian yang disebut angular gyrus menghubungkan simbol tersebut dengan suara huruf dan area Wernicke adalah bagian dimana proses pemahaman berlangsung.

Perkembangan Motorik

Saat si kecil tumbuh semakin tangkas—berlari, melompat, memanjat, dan belajar untuk melakukan gerakan yang lebih sulit—otaknya terus melatih proses yang menjadi kunci untuk keseimbangan dan koordinasi. Selama tahun-tahun prasekolah, si kecil juga mengembangkan fungsi eksekutif yang mengontrol ingatan, pemilihan waktu, dan mengurutkan, kemampuan tersebut sangat penting untuk kegiatan fisik yang lebih kompleks seperti naik sepeda serta melempar dan menangkap bola. Repetisi adalah kunci untuk kemajuan, koneksi saraf diperkuat dengan penggunaan kedua gerakan otot besar dan kecil. Ibu akan melihat perkembangan saat si kecil melakukan gerakan seperti berjalan mundur, berjingkat, dan melompat dengan satu kaki.

Pada usia ini, keterampilan motorik halus juga menjadi lebih penting karena si kecil belajar untuk menulis, menggambar, membangun, dan berkreasi dengan cara-cara yang membutuhkan tangannya untuk melakukan perintah dari otaknya.

Perkembangan Komunikasi

Pernahkah Ibu bertanya-tanya mengapa kita sulit membedakan serta memahami suara dan suku kata yang tidak digunakan di bahasa asli kita? Otak si kecil pertama-tama membentuk koneksi sinapsis yang diperlukan untuk mendengar dan memproduksi semua suara yang digunakan dalam bahasa di seluruh dunia. Tetapi karena ada koneksi yang digunakan dan ada yang tidak digunakan, koneksi tersebut akan diperkuat atau dihilangkan untuk membantu penguasaan bahasa yang ia dengar dan gunakan dalam bahasa aslinya.

Seiring berjalannya waktu, Ibu akan melihat perubahan kemampuan si kecil untuk membedakan bahasa, bahasa-bahasa yang ia dengar di sekitarnya dan bahasa yang tidak familiar. Sewaktu bayi, si kecil bereaksi terhadap semua bahasa lisan sedangkan pada tahun-tahun prasekolah, seorang anak terlibat ketika ia memahami pembicaraan namun ia bisa mengabaikan atau terlihat bingung saat mendengar bahasa asing.

Keterampilan komunikasi si kecil mengalami perubahan drastis selama tahun-tahun ini. Ia menjadi pendengar yang lebih baik dan merespon dengan lebih siap ketika diajak bicara. Tidak hanya kalimat yang ia ucapkan semakin panjang dan kompleks, misalnya ia dapat mengikuti petunjuk dengan lebih dari satu langkah dan ia dapat menggambarkan urutan kejadian dalam urutan yang sesuai. Ia bahkan mulai mengutarakan pikirannya dan berbicara menurut situasi dan perasaan.

Perkembangan Sosial

Aturan "gunakan atau akan hilang" dalam perkembangan otak adalah kunci pemahaman sosialisasi si kecil. Penelitian menunjukkan perbedaan dramatis antara anak-anak yang sering berinteraksi dengan orangtua dan pengasuh lain dibandingkan anak-anak yang kurang mendapatkan stimulasi. Hingga usia 3 tahun, otak si kecil menghasilkan koneksi sinapsis lebih banyak dari yang ia butuhkan. Interaksi sosial memperkuat koneksi sinapsis dalam bahasa serta bentuk komunikasi dan ekspresi sosial lain. Sedangkan koneksi yang tidak digunakan akan melemah dan menghilang. Dengan cara ini lingkungan sosial si kecil akan membentuk otaknya. Proses ini disebut plasticity.

Ibu akan melihat perubahan serupa pada aspek interaksi sosial lainnya, terutama karena si kecil mulai membangun hubungan dengan teman-temannya. Antara usia 3 dan 5 tahun, didorong oleh perkembangan cerebral cortex, si kecil berkembang dari pemikiran bahwa setiap orang memandang dunia dengan cara yang sama ke pemahaman bahwa bisa ada berbagai sudut pandang yang berbeda. Bahkan pada sekitar usia 4 tahun, si kecil menyadari jika hal yang ia ingin mainkan sekarang (mainan kereta api itu) mungkin berlawanan dengan hal yang anak lain ingin mainkan (bola itu). Sebagian besar pembelajaran dan pemahaman ini terjadi melalui aktivitas bermain, yang para ahli tekankan adalah serangkaian keterampilan kompleks yang membutuhkan waktu untuk berkembang. Ketika si kecil mulai bermain dengan anak lain, ia akan belajar, melalui proses trial and error, untuk bekerja sama dan berunding dengan anak-anak lain melalui konsep berbagi dan bergiliran.