meperkenalkan

Kapan dan bagaimana mengenalkan tata cara makan?

Tidak pernah ada kata terlalu awal untuk mulai mengajarkan cara makan yang santun. Ibu bisa memulai dengan mencontohkan bagaimana cara makan yang baik. Tunjukkan pada si kecil bagaimana Ibu menggunakan berbagai peralatan dan serbet, mengucapkan kata ‘silakan’, ‘terima kasih’, dan ‘maaf’ pada saat yang tepat. Bahkan jika ia belum bisa menguasai semua hal tersebut (karena saat ini kain pembersih air liurnya jauh lebih berguna daripada serbet makan), ia akan belajar dengan memperhatikannya lebih dahulu.

Perlu diingat bahwa pada tahap ini, si kecil masih berjuang untuk belajar bagaimana cara untuk makan sendiri, jadi definisi tentang bagaimana cara makan yang baik pun masih fleksibel. Waktu makan haruslah menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan bagi si kecil, dan itu berarti, ada beberapa makanan yang akan dijadikan mainan selama proses ini, misalnya, biskuit yang dijejerkan, dicelup-celup, mengambil makanan dari piring Ibu, dan membuangnya ke lantai, ke wajah dan rambutnya. Selama masih ada makanan bergizi yang ia makan, biarkanlah ia melakukan hal-hal tersebut.

Ini bukan berarti Ibu tidak boleh menerapkan batasan. Tentu saja si kecil tetap tidak boleh melemparkan makanan, piring, atau peralatan makan. Berteriak di meja makan? Memasukkan makanan ke mulutnya hanya untuk kemudian membuangnya lagi? Mengoleskan makanan ke seluruh kursi makannya tanpa memakannya sama sekali? Tentu tidak diperbolehkan! Nyatanya, perilaku tersebut merupakan sinyal dari si kecil bahwa ia sedang tidak lapar atau tidak berselera untuk makan. Hentikan perilaku tersebut sejak awal dengan menjauhkan si kecil dari meja makan secara perlahan sehingga ia belajar bahwa itu bukanlah perilaku yang baik ketika makan.

Dalam setahun, ketika si kecil mampu makan sendiri dan mengikuti petunjuk dengan baik, Ibu bisa mulai menanamkan dasar-dasar tata cara makan yang baik, seperti duduk tegak dan tidak mengunyah dengan mulut terbuka.