Lapar atau Kenyang? Bagaimana Cara Mengetahui Perbedaannya Saat Si Kecil Berusia 6 Bulan
Bukan rahasia lagi bahwa memberi makan si kecil bisa membuat Ibu stres, terutama bagi para orangtua baru. Ada begitu banyak pertanyaan yang perlu dipikirkan: Seberapa sering Ibu harus memberi makan si kecil? Apakah Ibu yakin si kecil sudah mendapatkan asupan gizi yang cukup?  Apakah kebutuhan nutrisinya berubah setiap minggu?

Kabar baiknya adalah si kecil merupakan satu-satunya yang menentukan kapan ia merasa lapar, dan kapan ia merasa kenyang. Tubuhnya mengatur rasa lapar dan rasa kenyang  sesuai dengan kebutuhan energinya. Oleh karena itu, menghitung jumlah gram susu formula atau menghitung berapa menit Ibu menyusuinya, bukan cara yang tepat untuk menentukan cukup atau tidaknya. Sebaliknya, coba perhatikan tanda-tandanya; perilakunya akan memberitahu Ibu kapan ia merasa lapar atau kenyang.

Sebuah penelitian membuktikan bahwa saat pengasuh responsif terhadap tanda-tanda lapar, si kecil yang masih balita ini akan mengatur sendiri pengeluaran energi mereka. Tapi bila tanda-tanda tersebut tidak diperhatikan, mereka akan merasa bingung menghadapi rasa lapar dan kenyang, yang akan mempengaruhi kesukaannya terhadap makanan yang kurang menyehatkan (tinggi lemak, tinggi kalori) dan menyebabkan obesitas pada masa kanak-kanak.

Tanda-Tanda Si Kecil Kelaparan
Menangis
. Tangis lapar umumnya terdengar singkat, bernada rendah, serta mengencang dan mereda. Tapi menangis hanya merupakan salah satu tanda-tanda akhir saat kelaparan. Ibu akan menyadari beberapa tanda lainnya berupa perilaku (seperti yang tertera di bawah). Begitu si kecil mulai menangis kelaparan, kemungkinan si kecil akan tampak stress untuk memulai makan.

Terbangun dan tampak gelisah. Sebelum si kecil merasa kelaparan dan menangis histeris, ia akan terbangun dan bergerak-gerak di tempat tidurnya. Ia juga akan menggerakkan mulutnya dan mengangkat kedua tangan ke wajahnya.

Menghisap kepalan tangannya, mengecap-ngecap bibirnya. Bila Ibu memberikan ASI, Ibu akan menyadari tanda-tanda ini. Daripada menunggu disusui, ia akan langsung menyusu sendiri.

Mencari. Beberapa minggu pertama setelah kelahirannya, bila Ibu mengusap pipinya, secara reflek ia akan menoleh ke arah botol atau dada dan melakukan gerakan menghisap dengan mulutnya. Setelah 4 bulan, mencari akan menjadi sebuah tindakan yang dilakukan secara sukarela, bukan sekedar reflek.

Membuka mulutnya saat menyusu. Artinya: “Mau lagi!” Si kecil yang kelaparan akan terus memperlihatkan ketertarikannya dengan terus menghisap, bahkan setelah ia selesai menyusu langsung atau dari botol.

Tersenyum setelah menyusu. Si kecil yang telah berusia lebih dari 4 bulan akan menunjukkan minatnya dengan makan sambil memandang Ibu dan tersenyum.

Tanda-tanda si kecil sudah merasa kenyang
Menutup mulutnya.
Seperti saat si kecil siap menyusu, saat si kecil merasa kenyang, ia akan menutup rapat mulutnya, seolah berkata, “Sudah cukup, terima kasih.”

Memalingkan wajahnya. Tindakan yang lebih tegas dari sekedar menutup mulut adalah dengan memalingkan wajahnya dari sumber makanannya. Jika si kecil memalingkan wajahnya dari dada dan botol susu, jangan memaksanya untuk terus minum.

Melemahkan atau menghentikan isapan. Meskipun sudah merasa kenyang, sebagian si kecil yang masih balita ini akan berhenti menyusu tanpa melepaskan mulutnya dari puting—artinya, ini waktu untuk mengakhiri sesi menyusui.

Melepaskan puting atau tertidur saat merasa kenyang. Setelah 15 atau 20 menit, balita yang merasa kenyang akan merasa mengantuk dan bahkan tertidur.

Lebih tertarik dengan hal lain di sekitarnya ketimbang makanan. Sekitar usia 4 bulan, kebanyakan balita akan lebih mudah terdistraksi ketika sedang makan, bersamaan dengan tumbuhnya ketertarikan mereka akan dunia tempat mereka tumbuh dewasa. Balita yang kelaparan akan menunda rasa penasaran mereka sampai mereka merasa kenyang. Saat ia mulai terdistraksi dan melihat ke sana ke mari, itu adalah tanda bahwa ia sudah merasa kenyang.