Organ-organ pencernaan si kecil akan terus berkembang.
 

Dalam waktu yang sama, beberapa aspek dalam perkembangannya akan berpengaruh terhadap kemampuan si kecil untuk makan sendiri dan membina pola makan yang sehat. Perubahan yang terlihat pada umur 1 tahun ke atas termasuk:

  • Kemampuan mengunyah yang baru. Si kecil akan terus memotong menggunakan giginya, tapi ia belum dapat mengunyah dengan pergerakan yang efisien sampai ia berumur 4 tahun. Berikan si kecil makanan yang lembut yang sudah di tumbuk atau makanan yang dapat diiris tipis, potongan-potongan yang mudah untuk di kunyah di usia 1 dan 2 tahun. Jangan berikan kacang, anggur, tomat cherry, wortel, biji-bijian (biji labu atau kwaci), sosis (kecuali sudah di potong kecil-kecil), permen, jelly, dan selai kacang.

  • Sensitivitas terhadap rasa. Riset menunjukan bahwa bayi memiliki indra pengecap yang lebih luas dibandingkan orang dewasa Indra perasa pada lidah yang akan terus berkembang pada masa balita. Hal ini menjelaskan mengapa balita lebih sensitif terhadap makanan yang penuh dengan rempah. Ini juga salah satu alasan untuk menyajikan beberapa variasi makanan yang tidak asin atau manis buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, produk susu, dan lemak baik agar si kecil dapat membiasakan diri dan mulai suka dengan beberapa makanan tersebut.

  • Memilih-milih makanan. Si kecil akan mulai lebih aktif pada waktu makan. Ia menjadi semakin mahir saat makan sendiri dan akan lebih tegas saat memilih makanannya. Dengan ini, tidak mengherankan jika ketidak seimbangan nutrisi mulai muncul. Karena pertumbuhan otak yang cepat akan terus tumbuh hingga si kecil berumur 3 tahun, satu hal penting yang harus diperhatikan adalah DHA. Sesuai dengan rekomendasi para ahli, rata-rata balita hanya mendapatkan 25 persen nutrisi DHA (70-100mg) dari diet mereka sehari-hari yang penting untuk pertumbuhan otaknya.

  • Konstipasi. Mengendalikan buang air besar adalah langkah yang penting dalam perkembangan si kecil. Sembelit akan mempersulit si kecil saat berlatih buang air, khususnya ketika si kecil takut untuk buang air besar. Ketakutan dapat menyebabkan sembelit, yang kemudian akan terus berlanjut seiring waktu, pada akhirnya menghasilkan poop yang besar dan keras yang akan sulit untuk dikeluarkan. Untungnya pola makan yang tepat dapat meredakan masalah ini.