Pada beberapa kasus, Ibu tidak bisa memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan seperti yang dianjurkan oleh WHO. Biasanya selain disebabkan karena produksi ASI yang tidak memadai, para ibu ada juga yang memiliki masalah kesehatan sehingga membuat bayi menerima susu formula. Perlu diingat, bahwa susu formula sebaiknya diberikan pada bayi dengan rekomendasi dokter atas indikasi kondisi tertentu. Terkait pemberian susu formula, banyak bayi yang cocok atau tidak cocok, ternyata hal ini dapat dideteksi dari poop atau feses bayi.

Hal yang perlu menjadi perhatian khusus Ibu saat memilih susu formula diantaranya adalah kandungan gizi dan juga  usia si kecil. Dari sisi gizi, Ibu perlu mencari susu formula yang memiliki kandungan yang setidaknya mirip dengan ASI.

Sementara dari segi usia si kecil, Ibu perlu mengetahui kesiapan sistem pencernaan si kecil dalam mengolah makanan.  Bayi berusia 0-6 bulan belum memiliki sistem pencernaan yang sempurna, sedangkan bayi berusia 6 bulan ke atas sudah memiliki sistem pencernaan yang lebih siap mengolah makanan.

Nah, agar tidak terjadi masalah pada pencernaan si kecil, Ibu perlu memilih susu formula yang sesuai dengan usianya. Selain itu, perlu juga diperhatikan, bahwa bayi dibawah umur satu tahun tidak boleh mengonsumsi susu sapi segar karena kandungan natrium, protein dan elektrolitnya masih sangat tinggi.

Adapun poop bayi formula ketika dalam keadaan sehat dan normal adalah sebagai berikut:
1. Tekstur poop yang lebih padat dibandingkan feses bayi yang mengkonsumsi ASI.
2. Poop berwarna kecokelatan atau kuning kehijauan.
3. Baunya lebih kuat dan agak mirip dengan poop orang dewasa.
4. Frekuensi poop bayi biasanya sehari sekali atau mungkin lebih jarang, namun hal ini tidak masalah selama tekstur dan warna poop normal. Frekuensi hingga 3-4 kali sehari juga masih normal untuk beberapa bayi.

Jika frekuensi poop nya meningkat dan konsistensi poop nya cair, maka perlu diperhatikan apakah ada kesalahan dalam memberikan takaran susu formula, atau mungkin jenis susu formulanya tidak cocok bagi bayi. Bila kemungkinan tersebut bisa dieliminasi, maka kemudian perlu dicurigai apakah ada diare atau alergi susu, menurut dr. Cynthia Utami, SpA, dokter yang berpraktek di RS. Omni Alam Sutra, RS. Gandaria, dan RS. Graha Kedoya..

Konsistensi poop bayi yang mengonsumsi susu formula mirip dengan poop bayi ASI eksklusif, hanya umumnya, konsistensi nya sedikit lebih padat.

Sumber:

http://www.babycentre.co.uk/a551926/your-babys-poo-whats-normal-and-whats-not

http://www.newkidscenter.com/Formula-Fed-Babies-Poop.html

http://idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-susu-formula-pada-bayi-baru-lahir

http://aimi-asi.org/alasan-medis-pengganti-asi/

http://www.webmd.com/parenting/baby/features/truth-about-baby-poop

http://www.parents.com/baby/diapers/dirty/baby-bowel-movement/