0011_1-month

Mendeteksi kesehatan bayi memang dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap poopnya (bab). Bentuk, konsistensi, warna, sampai bau juga dapat mengidentifikasikan kesehatan bayi. Secara normal, poop memang mengeluarkan bau. Pada poop bayi, bau yang dihasilkan pun sangat beragam, layaknya orang dewasa. Namun, bau seperti apa yang menjadi ciri bahwa kesehatan bayi sedang terganggu?

Pada poop, bau paling sering merefleksikan berapa lama poop berada dalam usus. Karena semakin lama bersemayam dalam bakteri, semakin hebat pula baunya. Meski demikian, sebagian bayi dengan bau poop yang sangat asam atau busuk, mungkin mengalami intoleransi atau alergi.

Pada tahun 2001, dr. Ekhard Ziegler, seorang professor di bidang kesehatan anak dari University of Iowa menerbitkan penelitiannya dalam "The Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition" dan mengungkapkan perbedaan bau poop bayi dengan ASI eksklusif dan bayi dengan susu formula. Bayi dengan ASI eksklusif cenderung mengeluarkan poop yang mengandung hidrogen tak berbau dan sulfur tingkat rendah. Berbeda dengan bayi yang mengonsumsi susu formula, mereka cenderung mengeluarkan poop yang memiliki bau percampuran methyl mercaptan  dan hydrogen sulfide, sehingga tercium seperti telur busuk.

Di luar asupan bayi, poop yang berbau menyengat atau tidak normal juga dapat menjadi penanda beberapa penyakit, seperti diare, demam, atau infeksi pencernaan. Pentingnya mengidentifikasi kesehatan si kecil melalui poopnya dapat mengurangi resiko berat dari penyakit berbahaya seperti diare, karena diare yang dibiarkan dapat menyebabkan dehidrasi bahkan mengarah ke kematian. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi Ibu, khususnya para orang tua yang memiliki bayi di bawah usia 3 bulan. Jika Ibu menemukan bau yang menyengat dan tidak wajar pada si kecil, bisa jadi hal tersebut pertanda si kecil terserang diare dan segeralah bawa ke dokter.

Selain itu, lewat bau poop si kecil, Ibu pun dapat mendeteksi berbagai gejala tidak normal pada si kecil, misalnya intoleransi laktosa. Inteloransi laktosa adalah masalah yang sering terjadi pada si kecil, namun tetap memerlukan perhatian khusus. Bayi yang mengalami intoleransi laktosa adalah bayi yang tidak cukup memproduksi laktase, suatu enzim yang dibutuhkan untuk mencerna laktosa (yaitu gula dalam susu sapi dan produk susu lainnya). Gejala seperti diare, perut kembung, dan banyak gas bisa terjadi bila laktosa tidak terurai.

 

Gejala biasanya muncul sekitar satu atau dua jam setelah mengonsumsi susu.

Berikut adalah contoh klasifikasi jenis bau pada poop dan indikasi penyebabnya:

1. Bau busuk. Jika Ibu menemukan bau busuk pada poop si kecil, patut  dicurigai, adanya pembusukan yang tidak normal oleh bakteri di usus.

2. Bau sangat asam. Biasanya pertanda ada gangguan penyerapan gula atau yang sering kita sebut sebagai intoleransi laktosa, karena si kecil tidak dapat mengonsumsi susu sapi. Hal ini dapat diatasi dengan mengganti susu si kecil dengan susu kedelai. Bayi dengan ASI eksklusif umunya sangat jarang mengalami intoleransi laktosa.

3. Bau amis. Pada kondisi ini, kemungkinan terdapat infeksi amuba atau jamur. Jika Ibu menemukan kondisi ini pada si kecil, berarti si kecil perlu penanganan dokter.

Jika bayi Ibu mengalami intoleransi laktosa, Ibu dapat mensiasatinya dengan melanjutkan pemberian ASI karena ASI adalah makan terbaik bagi bayi. Selain itu,Ibu juga bisa memberikan mereka susu bebas laktosa dan sebaiknya bawa si kecil ke dokter spesialis anak untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Sumber:

http://www.livestrong.com/article/507626-smelly-bowel-movements-in-infants/

http://www.birthinjuryguide.org/birth-injury/symptoms/foul-smelling-grea...

http://www.livestrong.com/article/536323-breastfeeding-and-acidic-smell-...

http://www.webmd.com/digestive-disorders/tc/lactose-intolerance-topic-ov...

http://www.askdrsears.com/topics/health-concerns/skin-care/diarrhea