Imunisasi merupakan salah satu langkah untuk melindungi anak dari beberapa jenis penyakit yang berpotensi serius dan berbahaya. Oleh karena itu, imunisasi tidak hanya dilakukan satu kali saja. Sebagian dari Anda mungkin belum benar-benar memahami tentang pentingnya imunisasi. Maka dari itu, berikut penjelasan lengkap tentang imunisasi.

Apakah imunisasi dan vaksinasi itu sama?

 

Imunisasi dan vaksinasi memang sama-sama bertujuan untuk melindungi si kecil dari ancaman penyakit tertentu. Namun, keduanya tidak dapat disamakan.

Vaksin adalah ‘alat’ untuk membentuk antibodi terhadap suatu penyakit tertentu. Ini berarti vaksinasi adalah proses pemberian antibodi untuk menangkal penyakit.

Sementara imunisasi adalah proses pembuatan antibodi di dalam tubuh, setelah divaksin, agar sistem imun semakin kuat sehingga kebal terhadap serangan penyakit.

Meski demikian, istilah imunisasi lebih sering digunakan di kalangan awam. Mulai dari sekarang, Ibu perlu mengingat bahwa keduanya itu berbeda, ya.

Mengapa si kecil harus mendapat imunisasi?

 

Metode perlindungan anak terhadap penyakit ini tentunya dianjurkan untuk diberikan pada anak bukan tanpa alasan. Mengacu pada Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi bermanfaat untuk melindungi anak dari beberapa jenis penyakit berbahaya dan sekaligus untuk mencegah penularan ke orang terdekat, misalnya saudara atau teman sebaya.

Imunisasi akan meningkatkan kekebalan tubuh si kecil sehingga mampu melawan virus atau bakteri penyebab penyakit tertentu.

Anak yang telah diimunisasi apabila terinfeksi oleh virus atau bakteri tertentu tidak akan menularkan orang lain. Dengan kata lain, selain bermanfaat untuk diri sendiri, orang lain pun mendapat manfaatnya karena dapat mencegah penyebaran atau penularan.

Hal ini disebut juga dengan herd immunity atau kekebalan kelompok, ketika vaksin tidak hanya melindungi orang yang diimunisasi, tetapi juga memiliki manfaat untuk anak yang tidak diberikan vaksin.

Mengenal jenis imunisasi yang wajib untuk si kecil

 

Berdasarkan Permenkes No. 12 Tahun 2017, terdapat beberapa imunisasi atau vaksin yang wajib untuk bayi baru lahir sampai sebelum berusia 1 tahun.

Ibu tidak perlu mengeluarkan biaya, cukup dengan membawa si kecil ke pusat kesehatan seperti Posyandu, Puskesmas, atau rumah sakit tertentu karena biasanya diberikan secara gratis oleh pemerintah.

Terdapat dua tipe pelaksanaan  yaitu dengan cara suntik atau diteteskan ke dalam mulut (oral).

Vaksin oral berisi bibit penyakit yang masih hidup tetapi dilemahkan, sementara vaksin suntik biasanya berisi virus atau bakteri yang sudah mati. Sementara itu, vaksin suntik akan disuntikkan di bawah lapisan kulit atau langsung menuju otot (biasanya di lengan atau paha).

Kandungan vaksin tetes akan langsung masuk ke dalam saluran cerna untuk merangsang sistem kekebalan tubuh di dalam usus. Sementara vaksin suntik akan membentuk kekebalan langsung di dalam darah.

Berikut imunisasi dasar lengkap yang wajib diberikan pada si kecil beserta informasi mengenai jadwal hingga hal-hal yang perlu diperhatikan:

  • Hepatitis B. Diberikan 12 jam setelah dilahirkan, atau pada anak usia 2, 3, dan 4 bulan. Efek samping ringan setelah mendapatkan imunisasi hepatitis B yaitu bekas luka di area suntikan dan demam di atas suhu 37,7 derajat celcius.

  • Vaksin polio. Diberikan pada usia bayi 0, 2, 3, 4 bulan. Efek samping ringan yang mungkin terjadi antara lain demam ringan setelah imunisasi, nyeri di area suntikan, dan pengerasan kulit di area suntikan. Dampak imunisasi polio di atas bisa hilang dengan sendirinya dalam waktu 2-3 hari,

  • Vaksin BCG. Diberikan sebelum usia bayi 3 bulan, satu kali seumur hidup. Setelah diberikan, vaksin BCG akan memunculkan bekas berupa bisul atau luka bernanah. Namun Anda tidak perlu khawatir, karena ini adalah suatu respons alami sistem kekebalan tubuh anak terhadap vaksin yang diberikan.

  • Vaksin MR (Measles & Rubella). Vaksin untuk campak dan campak Jerman ini diberikan pada usia 9 bulan dan 18 bulan, tidak perlu diberikan bila sudah mendapat vaksin MMR pada usia 15 bulan. Tiap orang wajib mendapatkan vaksin campak paling tidak sekali seumur hidup. Perlu diketahui bahwa di Indonesia, vaksin campak dan campak jerman (vaksin MR) sengaja dipisah dari vaksin MMR atau yang mencakup gondongan, karena gondongan (mumps) sudah lebih jarang ditemui.

  • Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella). Vaksin campak, campak Jerman, dan gondongan ini  wajib diberikan pada anak mulai usia 9 bulan sampai selambat-lambatnya kurang dari 15 tahun. Orang dewasa berusia 18 tahun harus menerima dua dosis imunisasi campak sekaligus jika tidak pernah mendapatkan vaksin ini sebelumnya. Efek samping ringan yang mungkin dialami si kecil setelah mendapat vaksin MMR seperti nyeri atau kemerahan pada bekas suntikan, demam, dan jika terjadi biasanya akan muncul setelah dua minggu.

  • Vaksin DPT, HiB, HB. Diberikan pada usia bayi 2, 3, 4 bulan. Efek samping ringan yang paling sering dialami oleh bayi dan anak-anak setelah vaksin DPT yaitu nyeri setelah disuntik (3 dari 4 remaja mengalami ini), kemerahan atau bengkak di area yang disuntik (1 dari 5 orang mengalami ini), demam ringan 38 derajat celcius (1 dari 25 anak), sakit kepala, atau menggigil.

  • Vaksinasi dengue: Diberikan pada anak usia di atas 9 tahun dengan jadwal 0, 6, dan 12 bulan.

  • Japanese Encephalitis (JE). Vaksin diberikan khusus apabila akan mendatangi negara epidemi seperti Jepang, China, Korea, dan Thailand. Namun, di Indonesia pun vaksin ini dibutuhkan karena masih termasuk negara epidemi. Berdasarkan rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin japanese encephalitis sudah bisa mulai diberikan pada bayi berusia 12 bulan (1 tahun) sampai 16 tahun. Efek samping yang mungkin muncul hampir sama dengan vaksin DPT dan tidak perlu terlalu khawatir apabila terjadi.

Selain yang bersifat wajib, terdapat imunisasi lain yang sangat ditekankan oleh Permenkes. Jenis vaksin ini dapat diberikan untuk anak-anak hingga orang dewasa sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing. Di antaranya:

  • MMR (untuk mencegah campak/meals, gondongan/mumps, dan Rubella/campak jerman)

  • Tifoid (mencegah tipes)

  • Rotavirus (mencegah diare kronis)

  • Pneumokokus/PCV (mencegah pneumonia, meningitis, dan infeksi telinga)

  • Varicella (mencegah cacar air)

  • Influenza

  • Hepatitis A

  • HPV (mencegah kanker serviks dan penyakit seks menular)

Apakah si kecil menjadi kebal terhadap penyakit tersebut?

 

Secara sederhana, proses ini berfungsi memperkuat sistem kekebalan tubuh si Kecil. Meski kemungkinannya kecil, risiko untuk terserang penyakit tersebut masih ada.

IDAI sendiri menyatakan bahwa vaksinasi terbukti dapat melindungi anak. Ketika wabah sebuah penyakit menyerang, misalnya campak atau polio, anak yang mendapat imunisasi lengkap tercatat sangat jarang ada yang tertular.

Di sisi lain, anak yang sama sekali tidak mendapatkan vaksin cenderung tertular hingga mengalami komplikasi seperti kecacatan sampai bahkan kematian.

Oleh karena itu, Ibu sebaiknya membawa anak untuk mendapat perlindungan dan mengurangi risiko terjangkit sebuah penyakit, terutama penyakit berat. Dengan demikian, tak hanya si kecil, orang terdekatnya pun akan ikut terlindungi. Semakin banyak anak yang mendapat imunisasi, semakin mudah pula penyebaran sebuah wabah penyakit dihentikan.

Ayo jadi bagian dari Golden Start Club by Enfa A+ dan dapatkan berbagai informasi penting seputar tumbuh kembang anak. Segera daftar dan dapatkan informasi selengkapnya melalui tautan ini

Referensi: 

- IDAI - Ikatan Dokter Anak Indonesia. (n.d.). Imunisasi penting untuk mencegah penyakit berbahaya. Retrieved 28 July 2020, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/imunisasi-penting-untuk-mencegah-penyakit-berbahaya

- NHS Choices. (2019). Why vaccination is safe and important. Retrieved July 28, 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/vaccinations/why-vaccination-is-safe-and-important/

- MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. (2017). PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. Retrieved  July 28, 2020,from http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No._12_ttg_Penyelenggaraan_Imunisasi_.pdf