Tak sedikit wanita tetap merasa bergairah saat hamil. Namun, banyak juga pasangan yang meragukan apakah berhubungan intim aman dilakukan saat hamil? Apakah hal ini akan berpengaruh pada bayi dalam kandungan? Cari tahu jawabannya di artikel ini.

Manfaat berhubungan intim saat hamil

 

Hubungan intim merupakan bentuk cinta dari pasangan suami istri dengan memberikan kepuasan seksual satu sama lain. Masa kehamilan tidak akan menghalangi pasangan untuk menjalin hubungan cintanya.

Hubungan intim tidak akan menyakiti bayi di dalam rahim Ibu. Ketika pasangan melakukan penetrasi ke dalam vagina pun tidak akan memberi dampak apapun pada bayi dalam kandungan.

Bayi terlindungi oleh kantung ketuban yang melindungi janin dari cairan di sekitarnya dan otot-otot di sekitar rahim. Selain itu, terdapat lendir tebal yang menutup leher rahim dan melindungi bayi dari infeksi. Jadi, Ibu tak perlu khawatir untuk berhubungan intim selama masa kehamilan, selama kandungan sehat.

Ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh ketika berhubungan intim saat hamil.

1. Mendukung kesehatan jantung

 

Pada dasarnya, berhubungan intim saat hamil dapat menjaga kesehatan jantung. Jantung yang berpacu cepat saat melakukan aktivitas seksual sama seperti melangsungkan olahraga.

2. Menstabilkan tekanan darah

 

Berhubungan intim saat hamil juga memberi dampak baik dalam menstabilkan tekanan darah. Rasa bahagia dikombinasikan dengan aktivitas fisik dapat menstabilkan tekanan darah Ibu maupun Ayah.

3. Membuat ibu rileks

 

Jika berhubungan intim saat hamil dilakukan dengan hati yang gembira, tentunya akan membuat Ibu lebih rileks. Saat Ibu mencapai orgasme, tubuh akan melepaskan hormon yang mampu membuat tubuh rileks dan meredakan rasa sakit, seperti sakit punggung atau kaki. Bahkan, orgasme saat seks bisa melegakan sakit kepala.

Bagaimana kehamilan bisa memengaruhi kehidupan seks?

 

Setiap ibu memiliki gairah seksual yang berbeda, ada yang meningkat dan ada yang menurun. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa faktor kehamilan bisa memengaruhi kehidupan seksual setiap wanita.

Trimester pertama

 

Perubahan hormon saat awal kehamilan membuat tubuh Ibu jadi berubah. Wajar bila Ibu merasa seksi atas perubahan yang terjadi. Namun, hormon yang berubah bisa membuat gairah seksual menurun. Sebagian ibu mungkin saja mengalami kelelahan atau mual dan muntah pada awal kehamilan.

Trimester kedua

 

Pada masa trimester kedua, hubungan intim bisa berlangsung lebih nyaman. Ibu tak lagi merasa lelah atau mual pada masa ini. Si Kecil yang kian bertumbuh membuat perut Ibu lebih cembung. Kondisi ini membuat Ibu merasa lebih bergairah dari biasanya.

Aliran darah pun lebih banyak mengalir ke area panggul, sehingga membuat Ibu mudah orgasme. Ibu juga akan merasakan kontraksi di dalam dan sekitar vagina saat mencapai klimaks.

Trimester ketiga

 

Pada trimester ketiga, perut Ibu akan semakin besar. Hasrat seksual pun jadi menurun karena posisi seks juga terasa kurang nyaman karena perut yang membesar. Hal ini wajar terjadi, Bu. Dalam penelitian International Journal Of Environmental Research And Public Health dikatakan hasrat seksual ibu hamil ketika di trimester ketiga lebih rendah dibandingkan di trimester kedua.

Namun tak apa, Ibu dan Ayah bisa mendiskusikan posisi seks yang nyaman agar dapat menikmatinya bersama. Jangan sungkan untuk mengatakan pada pasangan mengenai kondisi Ibu apakah nyaman atau tidak untuk melangsungkan hubungan intim. Bagaimana pun aktivitas ini sebaiknya dilakukan dengan suasana hati yang baik dan nyaman.

Kondisi yang tidak dianjurkan berhubungan intim saat hamil

 

Dalam beberapa kondisi kehamilan, dokter akan menganjurkan untuk menghindari hubungan seks. Misalnya, jika Ibu mengalami perdarahan saat masa kehamilan. Hubungan seks dalam kondisi ini bisa meningkatkan risiko perdarahan, jika plasenta berada di bagian bawah rahim.

Selain itu, ada beberapa kondisi kehamilan yang tidak dianjurkan untuk berhubungan intim.

  • Ketuban pecah sebelum melahirkan. Hal ini dapat meningkatkan risiko infeksi bakteri, karena bayi tak lagi mendapat perlindungan dari air ketuban.

  • Ibu yang mengandung bayi kembar (terutama pada masa trimester ketiga), karena menimbulkan ketidaknyamanan dan kelelahan saat melakukan hubungan intim,

  • Terdapat masalah pada jalan masuk menuju leher rahim, yang bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur atau keguguran,

  • Memiliki sejarah kelahiran prematur.

Setiap bulannya, Ibu pasti melakukan pemeriksaan kandungan secara teratur. Bila dokter menemukan kondisi tertentu seperti di atas pada masa kehamilan, ia akan memberikan saran dan rekomendasi yang tepat. Termasuk mengenai aktivitas seksual Ibu dan Ayah.

Bila tak ada masalah kehamilan, Ibu jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter mengenai hubungan intim saat hamil. Bagaimana pun, hubungan seksual tetap memiliki peran penting bagi Ibu dan Ayah dalam menjaga kemesraan.

Ayo jadi bagian dari Golden Start Club by Enfa A+ dan dapatkan peluang memperoleh berbagai hadiah menarik seperti sampel gratis, voucher eksklusif, produk promosi, konsultasi dengan pakar dan masih banyak lagi! Segera daftar dan dapatkan informasi selengkapnya melalui tautan ini.

Referensi: 

- Sex during pregnancy: What's OK, what's not. (2020). Retrieved 22 July 2020, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/sex-during-pregnancy/art-20045318

- Sex in pregnancy. (2017). Retrieved 22 July 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/pregnancy-and-baby/sex-in-pregnancy/

- Sex During Pregnancy (for Parents) - Nemours KidsHealth. (2020). Retrieved 22 July 2020, from https://kidshealth.org/en/parents/sex-pregnancy.html

- Sex during pregnancy. (2020). Retrieved 22 July 2020, from https://www.marchofdimes.org/pregnancy/sex-during-pregnancy.aspx

- staff, f. (2017). Health Benefits of a Good Sex Life - familydoctor.org. Retrieved 22 July 2020, from https://familydoctor.org/health-benefits-good-sex-life/

- Fuchs, A., Czech, I., Sikora, J., Fuchs, P., Lorek, M., Skrzypulec-Plinta, V., & Drosdzol-Cop, A. (2019). Sexual Functioning in Pregnant Women. International Journal Of Environmental Research And Public Health, 16(21), 4216. doi: 10.3390/ijerph16214216